Dicky Palupessy: Hadapi Pandemi Corona, Masyarakat Jangan Panic Buying

Dicky Palupessy: Hadapi Pandemi Corona, Masyarakat Jangan Panic Buying
Wakil Sekjen Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia Dicky Pelupessy menyampaikan paparan dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Minggu 22 Maret 2020. Dicky menyarankan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan rasional agar tidak membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar karena kepanikan dalam berbelanja (panic buying) serta harus tetap menjaga keamanan agar tidak tertular virus corona saat berbelanja dengan menjaga jarak minimal satu meter. ( Foto: Antara Foto )
Dina Fitri Anisa / EAS Minggu, 22 Maret 2020 | 15:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kondisi yang serba mengkhawatirkan di tengah pandemi corona (Covid-19) memang membuat banyak orang panik dan ketakutan. Bahkan ada beberapa di antara kita yang mulai bersikap terlalu berlebihan, semisal dengan melakukan aksi panic buying alias belanja berlebihan.

Dicky Palupessy, Wakil Sekjen Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia mengatakan, dalam ilmu psikologi panic buying disebabkan masyarakat mulai kehilangan perasaan untuk mengendalikan diri.

Dalam kondisi saat ini, sebagian besar masyarakat merepresentasikan virus korona sebagai musuh yang tidak terlihat, sehingga memerlukan tanggapan yang ekstra. Terlebih lagi, virus yang hingga kini belum memiliki obat ini juga bisa menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

"Saat seseorang kehilangan rasa untuk mengendalikan diri, maka membeli barang seperti masker dan hand sanitizer berlebihan adalah sebuah mekanisme psikologis untuk membenarkan perasaan takut dan rentan. Selain itu, secara psikologi membeli barang berlebih bisa mengembalikan kontrol diri,” jelas Dicky Palupessy saat telekonferensi di saluran Youtube BNPB, Minggu (22/3/2020).

Dicky mengatakan rasa takut dan rentan yang saat ini dirasakan masyarakat dikarenakan beberapa hal. Pertama, masyarakat acapkali memakan mentah-mentah ragam informasi keliru, dan tidak meyakinkan. Kedua, merebaknya penyebaran virus corona mengingatkan masyarakat akan kematian atau dalam bahasa psikologi disebut mortality salience. Kala seseorang diingatkan akan kefanaan tersebut, maka orang tersebut bisa menjadi implusif dalam membeli barang.

"Bagi mereka yang memiliki uang lebih dari pada yang lainnya, bisa membeli banyak barang dengan pengeluaran yang besar pula,” ungkapnya.

Selain dua hal yang menyebabkan manusia merasa rentan dan takut, panic buying juga bisa dipicu oleh tekanan dari lingkungan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, biasanya manusia melihat perilaku orang lain sebagai dasar penilaian untuk tindakan diri. Jadi, jika orang membeli dan menumpuk barang, maka tidakan tersebut juga bisa diikuti oleh lingkungannya.



Sumber: BeritaSatu.com