Pakar: Komunikasi Covid-19 Efektif Bila Penuhi Sejumlah Syarat

Pakar: Komunikasi Covid-19 Efektif Bila Penuhi Sejumlah Syarat
lustrasi virus "corona". ( Foto: Antara )
Markus Junianto Sihaloho / YS Senin, 23 Maret 2020 | 07:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali menyatakan, untuk menjamin efektivitas seruan Pemerintah untuk karantina sosial mencegah penyebaran covid-19, sebaiknya disertai dengan sejumlah kondisi.

Pertama, memastikan saluran komunikasi yakni pekerja media massa memahami situasi yang sebenarnya terjadi. Hal ini untuk menghindarkan tergagap atau canggung dalam menghadapi situasi yang tak biasa ini.

"Sebetulnya kalau mau kita jujur ini kita juga agak terlambat mengadakan semacam pelatihan untuk teman-teman wartawan. Kita bisa cari jalan bersama antara Dewan Pers dan Ikatan Sarna supaya dalam konteks tertentu kita tidak gagap," ujar Effendy.

Hal kedua, Pemerintah harus memastikan tidak ada fakta yang boleh disembunyikan, termasuk apabila memang ternyata semua pihak tidak siap menghadapi wabah covid-19.

"Kita hanya boleh mengatakan ini agak terlambat, tapi sekarang kita percepat, kita kejar ketertinggalan kita. Tak boleh kita bilang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata Ghazali.

Ketiga, di sisi media massa sendiri harus dipastikan mengurangi pemberitaan yang masih belum menjadi fakta dan berpotensi menjadi konflik. "Hindari isi berita yang mengandung konflik," imbuhnya.

Keempat, untuk menghindarkan konflik, maka Pemerintah dan pihak terkait juga harus menyediakan apa yang dibutuhkan masyarakat di dalam menghadapi pandemi corona. Semisal penyediaan masker, hand sanitizer, hingga masyarakat berpendapatan harian yang terganggu akibat social lockdown.

Menurut Ghazali, adalah fakta bahwa barang-barang tersebut saat ini langka. Kalaupun ada, harganya mahal dan tak bisa diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

"Jadi kalau bisa Pemerintah bisa mengajak memproduksi dalam jumlah besar dan menyediakan," kata Ghazali.

Ghazali tampaknya berusaha melakukan sintesa atas teori 'jarum hipodermik' yang memberikan peran terhadap media massa sebagai saluran pesan yang bisa mempengaruhi massa, dengan obstinate audience theory yang menyebut bahwa massa akan mengikuti pesan yang memberikan keuntungan atau memenuhi kebutuhannya.

M Syukron dari Segitiga Institute juga menyatakan hal senada. Bahwa komunikasi Pemerintah soal anjuran social distance, juga akan dipengaruhi oleh sejauh mana kepentingan khalayak terpenuhi.

"Jadi selain memantapkan pesan dan channel-nya, harus dibangun kondisi bahwa social distance itu takkan mengganggu kepentingan dari khalayak," kata Syukron.



Sumber: Suara Pembaruan