Mahfud MD: Lockdown Belum Tentu Selesaikan Masalah

Mahfud MD: Lockdown Belum Tentu Selesaikan Masalah
Mahfud MD (Foto: BeritaSatu Photo / Uthan AR)
Roberth Wardhy / JAS Senin, 23 Maret 2020 | 17:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menko Polhukam Mahfud MD mengemukakan ada beberapa cara menghadapi penyebaran virus corona atau Covid 19. Pertama, dengan melakukan lockdown atau menghentikan sementara semua aktivitas negara. Namun pilihan itu belum tentu efektif. Contohnya terjadi di Italia. Di negara Eropa itu sudah diumumkan lockdown tetapi masyarakat masih jalan ke mana-mana.

"Di Italia, lockdown, di mana kota ditutup tetapi korban masih berjatuhan. Korban masih berjatuhan karena masyarakatnya tidak disiplin, bus-bus masih berjalan, orang saling menularkan, sehingga sampai kemarin itu sudah bisa menewaskan 789 orang. Ya 800 orang lah (menurut situs worldometer.info hingga Senin, 23 Maret korban meninggal di Italia sudah sampai 5.476 orang) kemarin itu. Nah, itu kalau lockdown sehingga lockdown itu pun di samping juga agak kurang manusiawi itu juga ternyata tidak efektif seperti di Italia," kata Mahfud MD dalam video konferensi pers yang disebar ke media di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Cara kedua, kata Mahfud adalah dengan care immunity. Cara ini seperti disebut dilakukan konon di Inggris. Dalam metode ini, orang dibiarkan melakukan pertaruhan imunitas atau kekebalan pribadi, komunitas, kelompok.
"Jadi orang dibiarkan dari imunitasnya sendiri-sendiri sehingga pada akhirnya sesudah menyebar akan hilang. Itu juga sangat tidak manusiawi. Itu orang disuruh cari selamat sendiri-sendiri," jelas Mahfud MD.

Dia menegaskan Indonesia memilih menjaga jarak (social distancing) atau physical distancing. Metode ini adalah menjaga jarak ketika bertemu atau berpapasan dengan orang lain.

"Melakukan hubungan-hubungan dengan orang lain itu dihindari kalau tidak sangat penting. Kalau sangat penting, jaraknya diatur 1 meter. Kemudian membersihkan diri, tangan, wajah, baju, dan sebagainya," tutur Mahfud.

Saat ditanya masih banyak masyarakat yang melanggar, dia tegaskan pada rapat Minggu (22/3/2020), sudah diputuskan TNI dan Polri ikut turun tangan secara selektif untuk menghalau masyarakat. Mereka dibantu oleh satpol PP di daerah-daerah untuk melakukan pembubaran terhadap kerumunan-kerumunan orang.

"Nah itu yang kemarin dilakukan. Memang pilihan apapun pasti ada yang kritik, ada yang mengatakan lockdown, begitu dicoba lockdown terbatas dalam transportasi misalnya udah ributnya bukan main. Ketika ada misalnya perintah mengurangi kerja di kantor, itu kan juga sudah banyak orang mengeluh. Gimana pekerja harian seperti kami kalau orang tdak ke kantor kami dapat apa seperti ojek dan sebagainya itu. Jadi memang kita harus bersabar yang penting kekompakan antara pemerintah dan rakyat harus saling menjaga," tutup Mahfud MD. 



Sumber: BeritaSatu.com