Wabah Corona, Sri Sultan HB X: Yogyakarta Tenangkan Diri

Wabah Corona, Sri Sultan HB X: Yogyakarta Tenangkan Diri
Sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyapa masyarakat dalam "Sapa Aruh Sri Sultan Hamengku Buwono X: Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona" di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Senin, 23 Maret 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Senin, 23 Maret 2020 | 21:42 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Berbicara sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam "Sapa Aruh Sri Sultan Hamengku Buwono X: Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona", di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Senin (23/03/2020), menyebutkan bahwa dalam menghadapi persebaran virus corona SARS-CoV-2, DIY belum menerapkan lockdown, melainkan calm down (menenangkan diri).

“Untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri agar eling lan waspodo," kata Sultan, yang didampingi Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X dan Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji.

Namun sebelum memberikan pernyataannya, Sri Sultan terlebih dahulu meminta maaf karena menyampaikannya di Kantor Gubernur DIY Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Sultan pun memberikan arahan dalam dua bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.

"Saya menyampaikan statement (keterangan) saya karena pribadi, sebagai Raja Kraton Ngayogyakarta, mestinya di Kraton Jogja, tetapi karena saya bekerja di sini, mengontrol dari sini untuk masalah tanggap darurat, saya mohon maaf, saya lakukan di tempat ini," ucap Sultan.

Sultan pun mengibaratkan situasi wabah Covid-19 ini seperti digambarkan oleh Pujangga Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha yang menggambarkan bencana virus corona saat ini sebagai bentuk ketidakpastian.

“Seperti yang digambarkan oleh pujangga Ronggowarsito, dalam serat Kalatidha, suasana tidha-tidha yang sulit diramal penuh rasa was-was. Saya mohon para warga agar bersama memanjatkan doa ke haribaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar kita diberi petunjuk jalan lurus-Nya kembali pada ketentraman lahir dan batin," ucap Sultan.

Sultan juga menyebutkan, dalam masa tanggap darurat bencana virus corona ini, kita harus menghadapinya dengan sikap sabar tawakal, tulus ikhlas, pasrah lahir batin disertai ikhtiar yang berkelanjutan.

“Sama seperti juga bagi saya yang berkewajiban menjadi pamong projo serta pamomong rakyat Yogyakarta harus berpegang teguh pada ajaran Jawa, wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah," katanya.

Suasana saat ini ibarat dua sisi mata uang. Di balik bahaya, ada peluang bagaikan pedang bermata dua, bisa untuk membunuh musibah atau bertahan hidup.

Sultan menjelaskan sikap tersebut yakni eling atas Sang Maha Pencipta, dengan laku sipitual lampah ratri zikir, memohon pengampunan dan pengayoman, waspada melalui kebijakan.

Kemudian sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi corona dengan cara resik resik diri dan lingkungannya sendiri-sendiri.

Jika ada yang merasa tidak sehat, Sultan menyuruh warga harus memiliki kesadaran dan menerima kalau wajib mengisolasi diri pribadi selama 14 hari sama dengan masa inkubasi penyakitnya.

“Saudara-saudaraku warga Yogya semuanya, berbeda dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata. Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya. Saya yakin, karena rakyat Yogyakarta memiliki kadar literasi yang tinggi, tentu bisa membedakan mana yang berita hoax,” ujar Sultan.

Karena itu, kata Sultan, strategi mitigasi bencana nonalam ini, DIY belum menerapkan lockdown. Melainkan calm down untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri.

“Agar eling lan waspada. Eling atas Sang Maha Pencipta dengan laku spiritual: 'lampah' ratri, zikir malam, mohon pengampunan dan pengayoman-Nya. Waspada, melalui kebijakan 'slow down', sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi penyakit corona,” tegas Sultan.

Sekali lagi, dalam bahasa Jawa, Sultan mengingatkan, “Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan (jangan marah bila musibah menimpa diri dan jangan sedih bila kehilangan),” ucap Sultan. 



Sumber: BeritaSatu.com