12 Bulan, Konsorsium Ristek Covid-19 Targetkan Membuat Vaksin

12 Bulan, Konsorsium Ristek Covid-19 Targetkan Membuat Vaksin
Petugas medis melakukan proses rapid test atau tes cepat massal virus corona (Covid-19) bagi tenaga medis kota Bekasi, di Stadion Patriot Chandrabaga (PCB), Bekasi, Rabu, 25 Maret 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao )
Ari Suprianti Rikin / EAS Kamis, 26 Maret 2020 | 15:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Konsorsium riset teknologi penanganan virus Covid-19 menargetkan dalam waktu dekat menghasilkan kit diagnostik buatan lokal, suplemen tahan tubuh, dan alat pendukung penanganan virus yang telah menjadi pandemi dunia ini. Konsorsium juga menargetkan mininal 12 bulan ke depan bisa menghasilkan vaksin.

Menteri Ristek/Kepala BRIN Bambang Soemantri Brodjonegoro dalam video konferensi di Jakarta, Kamis (26/3/2020), mengatakan konsorsium memiliki tiga target yakni jangka pendek, menengah dan panjang.

Untuk jangka pendek, konsorsium menargetkan suplemen atau bahan makanan yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia dari keanekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia. Jangka menengah, melakukan riset kit diagnostik Covid-19 (rapid test) yang dikomandoi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sementara jangka panjang, adalah riset vaksin yang dipimpin Eijkman.

Dalam riset ini Indonesia juga membuka pintu kerja sama dengan luar negeri yang mungkin sudah mulai mengembangkan vaksin, sehingga bisa menemukan vaksin yang akurat dan cocok untuk masyarakat Indonesia.

"Meski di luar negeri sudah memulai, tetapi Indonesia juga harus punya kemampuan dalam membuat vaksin tersebut. Vaksin itu nantinya akan dibutuhkan penduduk Indonesia. Kemampuan mandiri dalam pembuatan vaksin sangat diperlukan," papar Bambang.

Dalam riset vaksin ini, Indonesia melalui Eijkman dan LIPI sudah memiliki fasilitas laboratorium bio safety level 3 (BSL-3) yang sudah diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam tahap awal berbagai riset yang dilakukan konsorsium, Kemristek sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 miliar. Anggaran ini diambil dari anggaran rutin seperti biaya perjalanan dinas yang diubah pengalokasiannya untuk penanganan Covid-19.

Sebelumnya konsorsium ristek Covid-19 yang digagas Kementerian Riset Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) berisi lembaga pemerintah non kementerian di bawah Kemristek seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor dan Universitas Gadjah Mada, sejumlah lembaga penelitian dan pengembangan serta swasta (industri farmasi).

Bambang mengatakan, di lingkungan Kemristek/BRIN sudah terbentuk konsorsium penanganan Covid-19 yang akan mendukung penuh Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19.

Saat ini Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pun yang menjadi bagian dari konsorsium ristek ini sudah mendukung litbang kesehatan untuk menguji sampel pasien terinfeksi Covid-19.

 



Sumber: BeritaSatu.com