Pengamat: Jangan Ada Tokoh Sesatkan Publik terkait Covid-19

Pengamat: Jangan Ada Tokoh Sesatkan Publik terkait Covid-19
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati ( Foto: istimewa )
/ BW Kamis, 26 Maret 2020 | 17:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati berharap, tidak ada tokoh yang menyesatkan publik terkait virus corona atau Covid-19 yang menjadi bencana kemanusiaan.

Menurut dia, wabah corona bukan hanya tantangan penyakit saja, Indonesia yang telah menerapkan kebijakan social distancing ternyata tidak berjalan mulus dan justru menimbulkan persoalan baru, yakni penyakit sosial, seperti maraknya hoax dan ketegangan sosial di masyarakat.

"Belajar dari ajang politik terdahulu, di mana banyaknya beredar informasi yang tidak dapat dipertanggungjawaban, yang kemudian berujung pada konflik individual bahkan sosial, maka situasi ini tidak boleh berulang lagi di masa-masa darurat corona," kata Devie Rahmawati, di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Untuk itu, diperlukan upaya bersama guna mengatasi berbagai tantangan sosial dari bencana corona. Tokoh masyarakat, tokoh agama, politisi, profesional, hingga para pengajar diharapkan bisa meyakinkan masyarakat tentang pentingnya melakukan physical distancing sehingga masyarakat dapat terhindar dari serangan virus corona.

"Mengingat, pandemi Covid-19 telah membuat banyak jatuh korban jiwa. Untuk itu, tokoh masyarakat seyogyanya dapat menjadi kiblat dan kompas bagi penyampaian informasi yang positif, konstruktif, dan empiris berdasarkan data-data yang benar," kata Devie.

Dia menjelaskan, secara sosial, masyarakat Indonesia memiliki karakter patron-klien, di mana masyarakat yang berada di hirarki sosial tertinggi (sosok individu yang terkenal/kaya raya/berasal dari keturunan bangsawan/pendidik), memiliki kekuatan untuk didengarkan oleh masyarakat luas.

Oleh karena itu, katanya, diharapkan para patron (tokoh) di masyarakat tidak menyampaikan informasi hoax bahkan pernyataan yang menyesatkan.

"Caranya mudah, para patron ini harus merujuk pada satu informasi yang akurat yaitu yang berasal dari pemerintah," kata Devie Rahmawati.

Dia juga berharap sebagai patron, tentu saja, tidak cukup hanya sekadar menyampaikan pernyataan, tetapi dibutuhkan aksi nyata berupa tetap tinggal di rumah, lalu tidak lagi menghadiri atau bahkan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang mengundang massa dalam jumlah besar.

"Para patron tersebut juga diharapkan proaktif untuk memoderasi arus lalu lintas informasi di berbagai saluran seperti WA/Instagram/Facebook/Twitter dan sebagainya. Para tokoh harus selalu siap melakukan koreksi ketika sebuah informasi yang diteruskan oleh masyarakat ternyata belum valid atau bahkan tidak ilmiah," katanya.



Sumber: ANTARA