DIY Terapkan Isolasi, dan Tes Kesehatan bagi Pemudik

DIY Terapkan Isolasi, dan Tes Kesehatan bagi Pemudik
Tim Polda DIY melakukan penyemprotan disinfektan ke semua titik kumpul warga termasuk jalanan Malioboro dan titik nol, juga pintu-pintu pusat pertokoan di Yogyakarta. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / LES Jumat, 27 Maret 2020 | 08:08 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta pemudik, atau warga DIY yang baru datang dari daerah zona merah Covid-19 dan daerah episentrum penyebaran virus corona, untuk disiplin dan mau memeriksakan diri ke rumah sakit, meski belum menunjukkan gejala.

“Kami akan menerapkan karantina 14 hari bagi mereka yang baru datang ke Yogyakarta, dan harus mau disiplin, serta melakukan tes kesehatan ke rumah sakit, kami Pemda DIY akan memfasilitasinya,” ujar Sultan kepada media melalui teleconference, Kamis (26/3/2020).

Untuk itu, Sultan meminta kepada para lurah, dukuh dan Babinsa untuk mendata para pemudik/pendatang tersebut dan meminta untuk tertib dalam mengisolasi diri secara mandiri. Selain itu, Pemda DIY juga akan menerapkan pemeriksaan ke tiap rumah pemudik tersebut, sehingga mengurangi aktivitas berkumpulnya masyarakat.

“Berdasarkan rapat Forkopimda, tadi, akhir-akhir tampak berbondong-bondong pendatang masuk ke Yogya, karena wilayah asalnya ditutup sehinga tidak bisa berdagang, tidak masuk kantor atau bahkan di PHK. Sehingga belum waktunya mudik Lebaran, sudah pulang,” kata Sultan.

Pernyataan Gubernur DIY tersebut juga menyikapi adanya pasien positif Covid-19 di Ponjong Gunungkidul yang sempat mengkikuti hajatan di kampungnya, sehingga menyebabkan warga lain resah.

Karena itu, lanjut Sultan, Pemda DIY sepakat mengambil kebijakan bahwa pendatang dari luar Yogya harus diisolasi minimal 14 hari, dilanjutkan pemeriksaan kesehatannya Covid-19.

“Bagi saya ini penting, karena sampai hari ini pasien positif corona yang ada di DIY, semuanya kasus impor, dalam arti tertular setelah keluar dari Yogya, maupun pembawa bibit masuk. Hari ini, terdata lebih dari 1.000 orang yang perlu dipantau,” ujar Sultan.

Menurut Sultan, dalam dua hari terakhir, ODP meningkat tajam karena mayoritas adalah pendatang yang kembali.

“Bagaimana pun pendatang itu juga warga DIY, tidak mungkin tidak pulang, tetapi harapan saya kepada bupati/wali kota dan perangkap pemerintah lainnya, termasuk masyarakat harus punya kesadaran untuk mengisolasi diri mau memeriksakan kesehatan begitu masuk DIY, sehingga tidak menular kepada tetangga dan penduduk setempat,” tegas Sultan.

Sementara itu, di sektor ekonomi, sesuai dengan keputusan pemerintah pusat, Pemda akan melalukan sinkronisasi dengan perbankan, BI dan OJK agar kebijakan itu bisa diterapkan di daerah.

“Pemerintah pusat sudah mengarahkan kebijakannya, sekarang bagaimana Pemda bisa memperkuat kebijakan itu, dan bagaimana membantu masyarakat yang rentan,” papar Sultan.

Sultan juga menegaskan, kalangan perbankan bersama Pemda DIY bisa menciptakan program dan kebijakan kepada para debitur sesuai kebijakan Pemerintah Pusat.

Warga Resah
Sementara itu diketahui, pasien positif corona, laki-laki berumur 55 tahun asal Ponjong Gunungkidul, membuat warga sekitarnya gaduh, lantaran sempat menghadiri hajatan, meski pihak rumah sakit meminta pasien tersebut untuk karantina mandiri selama 14 hari.

Lelaki tersebut baru saja pulang dari merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan. Pascapulang ke Gunungkidul, lelaki itu mengalami gejala demam dan batuk, kemudian memeriksakan diri dan sempat dirawat di RSUD Gunungkidul. Seraya menunggu hasil tes swab, pihak rumah sakit meminta pasien untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, karena kondisinya membaik.

Namun setelah pulang dari rumah sakit, pasien dalam pengawasan (PDP) ini malah mengabaikan perintah dokter dan justru keluar rumah berinteraksi dengan warga, bahkan menghadiri hajatan.

Setelah uji laboratorium keluar yang menyatakan positif corona, warga Desa Bedoyo resah, karena tidak menyangka jika yang bersangkutan merupakan PDP.

Dinkes Gunungkidul langsung melakukan antisipasi dengan penyemprotan disinfektan di lokasi tersebut dan pasien positif Covid-19 tersebut kembali dibawa ke ruang isolasi RSUD Wonosari.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty membenarkan warga Desa Bedoyo yang dinyatakan positif Covid-19 dan melakukan penjemputan pasien untuk segera masuk ke ruang isolasi.

Sedangkan balita umur 4 bulan yang terinfeksi corona di Kulonprogo, masih menjalani perawatan di di RSUD Wates dengan kondisi mulai membaik.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Sri Budi Utami menyatakan, pasien positif bayi 4 bulan tersebut, sudah menjalani perawatan instensif di ruang isolasi RSUD Wates selama satu minggu.

Bayi empat bulan asal Kapanewon Wates tersebut, diketahui memiliki riwayat bepergian ke luar daerah bersama orang tuanya. Namun ternyata daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang terdampak Covid-19.

Sedangkan kedua orang tuanya, tidak mengalami gejala dan tetap sehat. “Namun tetap dipantau dan statusnya saat ini orang dalam pemantauan (ODP)," katanya.

Selain bayi yang dinyatakan positif tersebut, diketahui di RSUD Wates saat ini juga masih merawat tiga PDP lainnya dan masih menunggu hasil laboratorium.



Sumber: BeritaSatu.com