Pengamat: Jakarta Lock Down Bisa Melahirkan Kekacauan

Pengamat: Jakarta Lock Down Bisa Melahirkan Kekacauan
Ilustrasi Covid-19. ( Foto: AFP )
Robertus Wardi / YS Jumat, 27 Maret 2020 | 13:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai, pilihan lock down atau penghentian sementara semua aktivitas masyarakat dalam menghadapi virus corona bisa melahirkan kekacauan. Pasalnya, masyarakat kecil seperti buruh kasar, buruh harian, dan pedagang-pedagang kecil yang paling mendapat kerugian akibat kebijakan tersebut.

“Nanti masyarakat bawah, masyarakat berpenghasilan rendah yang klenger. Ini pedagang-pedagang kecil pada kasian. Kalau mereka yang ASN bekerja di rumah, PNS bekerja di rumah saja, banyak sekali warung-warung, kantin-kantin pada enggak kebagian penjualannya, pada nganggur semua. Jadi ini belum lock down. Kalau di Jakarta terjadi lock down, itu bisa terjadi chaos nanti dampaknya,” kata Trubus di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Ia menjelaskan, jurang penghasilan antara warga kaya dan miskin di Jakarta sangat lebar. Kalau yang kaya mungkin punya tabungan dan bisa pesan makan lewat online. Sementara masyarakat miskin, harus kerja hari ini untuk mendapatkan makan hari ini juga. Jika tidak kerja, maka tidak dapat makan.

“Kalau misalnya itu dilakukan lock down, kalau orang kaya pesan makan enak, lewat online bisa. Kalau orang miskin mau makan, harus berkeringat dulu nyari ke mana-mana. Kalau ada, kalau enggak ada, kan pusing. Belum lagi kalau pun ada harganya mahal, duitnya enggak kesampaian, akhirnya ada kecemburuan sosial, akhirnya munculnya chaos,” jelasnya.

Dia melihat jika pemerintah pusat menyebut masalah lock down bukan perkara kewenangan pusat atau daerah. Kebijakan itu lebih ke kondisi force majeur yaitu keadaan yang terjadi di luar kemampuan manusia sehingga kerugian tidak dapat dihindari.

Sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD mengemukakan lock down belum tentu efektif jika diberlakukan. Contohnya terjadi di Italia, di mana sudah diumumkan lock down tetapi masyarakat masih jalan ke mana-mana.

"Di Italia, lock down, di mana kota ditutup tetapi korban masih berjatuhan. Korban masih berjatuhan karena masyarakatnya tidak disiplin, bus-bus masih berjalan, orang saling menularkan, sehingga sampai kemarin itu sudah bisa menewaskan 789 orang. Ya 800 orang lah sampai kemarin itu. Nah, itu kalau lock down sehingga lock down itu pun di samping juga agak kurang manusiawi itu juga ternyata tidak efektif seperti di Italia," kata Mahfud di Jakarta, Senin (23/3/2020).



Sumber: Suara Pembaruan