Pendidikan Vokasi di Era Global Kian Dibutuhkan

Pendidikan Vokasi di Era Global Kian Dibutuhkan
Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali Dadang Hermawan. ( Foto: Dok )
Lona Olavia / WBP Minggu, 29 Maret 2020 | 12:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mengikuti perkembangan zaman yang serba digital, sudah saatnya generasi muda, khususnya lulusan SLTA tidak lagi sekedar mengejar gelar sarjana. Saat ini lebih diperlukan keterampilan atau kompetensi tertentu di samping penguasaan bahasa asing bagi pencari kerja.

Menurut Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali Dadang Hermawan, di Indonesia, sudah ada beberapa regulasi mulai undang-undang (UU) sampai peraturan menteri yang mendorong berkembangnya pendidikan vokasi. “Pendidikan vokasi sebenarnya sangat cocok untuk kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kebiasaannya setelah menyelesaikan kuliah mencari pekerjaan. Namun, karena paradigma berpikir yang masih selalu menginginkan gelar, maka pendidikan tinggi vokasi masih kurang dilirik oleh masyarakat, padahal lulusan pendidikan tinggi vokasi ada gelarnya juga,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (29/3/2020).

Untuk menjadikan pendidikan vokasi benar-benar diminati masyarakat, baik calon pencari kerja maupun dunia usaha dan industri, maka perlu dilakukan langkah berikut. Pertama, secara berkesinambungan melakukan sosialisasi dengan konten-konten yang menarik para generasi muda bahwa pendidikan vokasi adalah pendidikan tepat yang akan mengantarkan para alumninya ke dunia kerja atau dunia wirausaha. Kedua, memperkuat sarana prasarana praktik di setiap jenjang pendidikan vokasi (SMK, perguruan tinggi vokasi) maupun lembaga-lembaga kursus non-formal.

Ketiga, mewajibkan semua PT vokasi dan SMK untuk mempunyai mitra dengan perusahaan minimal 5 : 1. Artinya 5 mahasiswa atau siswa mempunyai 1 mitra perusahaan. Keempat, SMK yang ada diarahkan untuk lebih spesifik pada bidang-bidang keahliannya, Misalnya SMK Teknologi Informasi, SMK Kelautan, SMK Pertanian, SMK Pariwisata, SMK Bisnis Manajemen, SMK Seni dan sebagainya.

Kelima, meningkatkan kolaborasi dengan berbagai perusahaan baik dalam maupun luar negeri dalam bidang penyusunan kurikullum dan pemagangan atau tempat praktek kerja. Keenam, berkoordinasi dan bekerja sama dengan Kemnaker untuk mencari dan tempat-tempat magang atau tempat kerja di luar negeri. Ketujuh, mendorong dan mempermudah setiap lembaga pendidikan tinggi vokasi untuk melaksanakan rekognisi pembelajaran lampau baik untuk dosen atau guru maupun mahasiswa.

Kedelapan, kerja sama dengan lembaga perbankan untuk memberikan kredit lunak kepada calon pemagang ke luar negeri. Kesembilan, memberlakukan standar nilai yang tinggi untuk akreditasi dalam bidang penyaluran alumni.



Sumber: BeritaSatu.com