Taati Physical Distancing, PSI Gelar Wawancara Online dengan Tiga Balon Wali Kota Surabaya

Taati Physical Distancing, PSI Gelar Wawancara Online dengan Tiga Balon Wali Kota Surabaya
PSI gelar wawancara online ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Yustinus Paat / RSAT Minggu, 29 Maret 2020 | 18:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar seleksi wawancara gelombang kedua dengan bakal calon (balon) wali kota Surabaya secara online. Wawancara ini merupakan bagian dari konvensi Pilkada 2020.

“Kami menggelar wawancara gelombang kedua ini secara online karena menimbang situasi pandemi Covid-19 sekarang. Dengan teknologi informasi, wawancara tetap bisa dilakukan dengan tetap mematuhi anjuran physical and social distancing,” kata Ketua Panitia Konvensi PSI, Isyana Bagoes Oka dalam keterangannya, Minggu (29/3/2020).

Ada tiga kandidat yang diwawancarai yakni, Andy Budiman (mantan jurnalis, praktisi komunikasi, dan kader PSI), Usman Hakim (entrepreneur dan politisi Partai Berkarya ), dan Rezky Anugerah Pratama (Presiden Mahasiswa BEM Universitas Wijaya Putra Surabaya).

Mereka diwawancarai oleh tiga anggota panelis, yaitu, Sekjen DPP PSI Raja Juli Antoni, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas, dan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan.

Panelis menggali pengetahuan para bakal kandidat soal Surabaya, apa saja yang akan dikerjakan untuk kota kedua terbesar di Indonesia tersebut, dan hal-hal lain yang relevan.

Hasil wawancara kemudian akan diunggah di akun media sosial PSI, sehingga warga Surabaya bisa mengetahui dan mempelajari bakal kandidat yang diwawancarai.

“Proses wawancara ini merupakan bagian dari upaya PSI untuk transparan. Warga Surabaya layak mengetahui kapasitas calon-calon pemimpin mereka. Bukan zaman lagi warga disuguhi 'kucing dalam karung' seperti masa-masa lalu," ujar Ketua DPD PSI Surabaya, Josiah Michael.

Pada gelombang pertama, ada enam bakal kandidat yang lolos seleksi wawancara. Mereka adalah Budi Santoso, Dwi Astutik, Firman Syah Ali, Gunawan, Sally Azaria, dan Zahrul Azhar Asumata. Beberapa saat kemudian, Gunawan mengundurkan diri karena ingin maju dari jalur independen.



Sumber: BeritaSatu.com