Pemerintah Hadapi Seruan #LockdownOrDie

Pemerintah Hadapi Seruan #LockdownOrDie
Ilustrasi ruang perawatan pasien positif "corona". ( Foto: Antara )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 30 Maret 2020 | 05:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia menghadapi seruan yang semakin besar untuk memperketat pembatasan pergerakan karena kematian akibat virus corona (Civid-19) melonjak. Negara berpenduduk terbesar keempat di dunia itu, hingga kini belum melakukan penutupan wilayah (lockdown)

Dengan 1.285 orang terinfeksi pada Minggu (29/3/2020) di negara berpenduduk 260 juta orang, tagar yang diterjemahkan sebagai #LockdownOrDie menjadi tren di media sosial. Sementara para politisi, dokter, dan pemimpin hak asasi manusia mendesak tindakan yang lebih ketat, terutama di ibu kota Jakarta.

Menko Polhukam Mahfud MD telah mengatakan pihaknya sedang mempersiapan peraturan pemerintah (PP) turun Undang-Undang Karantina, sehingga daerah dapat membatasi pergerakan. Sayangnya Mahfud belum menjelaskan kapan PP akan siap atau seberapa jauh akan berjalan.

Baca juga: Update Virus Corona Kemlu: 1 WNI di Inggris Meninggal

Namun di Jakarta, polisi merencanakan simulasi penutupan jalan. Kota berpenduduk 10 juta itu telah menutup sekolah dan ruang publik sampai 19 April 2020.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemhub) Budi Setiyadi, mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah sedang mengatur pengaturan pos-pos pemeriksaan di titik-titik akses kota.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan bahwa karantina akan dibahas pada Senin (30/3/2020) oleh pemerintah pusat. Hal ini bisa mencakup Jakarta dan sekitarnya, yang berpenduduk sekitar 30 juta orang.

Hinga kini ada 68 kematian dan 675 infeksi di Jakarta. "Ada banyak orang yang telah meminta pemerintah pusat untuk memberlakukan kebijakan lockdown terutama di Jakarta sebagai lokasi episentrum," kata juru bicara Perhimpunan Dokter Indonesia, Halik Malik.

Baca juga: Mendikbud Realokasi Anggaran Pendidikan Rp 405 M untuk Corona

Presiden Joko Widodo telah mendorong jarak sosial tetapi mempertanyakan warganya soal tingkat kedisiplin untuk diam di rumah. Berbeda dengan negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia dan Thailand.

Tiongkok tempat virus corona berasal, menempatkan sekitar 500 juta orang dalam pembatasan satu titik, sementara India telah memerintahkan penutupan lebih dari 1,3 miliar orang.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia, sebuah badan pemerintah, menginginkan karantina regional di daerah-daerah yang dikategorikan sebagai zona merah karena tingginya risiko kesehatan.

Adapun yang menjadi perhatian utama adalah potensi penyebaran virus selama mudik Lebaran ketika jutaan orang Indonesia secara tradisional meninggalkan kota-kota besar ke kampung halamannya setelah bulan puasa Ramadhan di bulan Mei.

Kota Tegal, Jawa Tengah mengatakan akan memberlakukan beberapa pembatasan mulai Senin (30/3/2020). Provinsi Papua menutup bandara, pelabuhan laut dan perbatasan darat pada Kamis (25/3/2020).



Sumber: Reuters