Polisi Berantas Penyebar Hoax soal Virus Corona

Polisi Berantas Penyebar Hoax soal Virus Corona
Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusri Yunus ( Foto: istimewa )
Bayu Marhaenjati / JAS Senin, 30 Maret 2020 | 23:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polda Metro Jaya dan Polres jajaran, telah mengungkap 43 kasus penyebaran berita bohong alias hoax terkait virus corona (Covid 19). Polisi mengingatkan kendati berita hoax telah dihapus, namun jejak digital tidak akan pernah hilang. Sehingga, masyarakat diharapkan bijak dalam menyebarkan informasi di jagat maya.

"Sudah 43 kasus yang sudah ditangani Polda Metro menyangkut berita hoax tentang Covid 19. Sudah ada 43 kasus yang ditangani Polda Metro dan jajaran baik Krimsus Polda Metro dan juga Polres-Polres yang ada di jajaran wilayah hukum Polda Metro Jaya. Semuanya masih dalam proses penanganan, ada yang sudah ditahan," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Senin (30/3/2020).

Dikatakan Yusri, ada empat kasus hoax viral dan teranyar yang diungkap Polda Metro Jaya. Kasus pertama diungkap Subdit IV Tindak Pidana Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, soal informasi hoax isu lockdown dengan judul "Data Tol Yg Ditutup Arah DKI Jakarta", dengan mencantumkan logo Polda Metro Jaya dan logo fungsi Biro Operasional Kepolisian, tanggal 23 Maret 2020 pekan lalu.

"Pertama terkait berita hoax isu lockdown tentang data tol yang akan ditutup, menyebar di medsos. Ada info beberapa jalur tol ditutup yang membuat masyarakat resah. Ini berhasil diamankan oleh Ditkrimsus Polda Metro Jaya, satu orang inisialnya A (AOI). Kita tahan yang bersangkutan, kita dalami motif yang membuat dia menyebarkan berita tersebut," ungkapnya.

Yusri melanjutkan, kasus kedua diungkap Polres Metro Jakarta Timur. Ada dua kasus, pertama tentang video berdurasi 20 detik berisi orang sakit dievakuasi pakai ambulans di Pusat Grosir Cililitan (PGC), namun disebut terjangkit virus corona, sekitar pukul 17.00 WIB, Sabtu (14/3/2020) lalu. Pelakunya seorang perempuan berinisial A -pegawai salah satu gerai di PGC-, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Terbaru, Polres Metro Jakarta Timur mengamankan HR alias B (45) lantaran menyebarkan video soal penutupan jalan di kawasan Cipinang Melayu, Minggu (29/3/2020) kemarin. "Ada seseorang menyampaikan melalui video di Cipinang Melayu sudah dilakukan lockdown. Yang bersangkutan sudah kami amankan dan sekarang sedang diproses hukum," katanya.

Kasus keempat, tambah Yusri, terkait adanya konten pada media sosial yang mengandung berita hoax terkait penyebaran virus corona, di Bandara Soekarno Hatta. Konten itu berbentuk foto seorang perempuan yang jatuh sakit karena serangan jantung, namun ditulis virus corona masuk Bandara Soekarno-Hatta. Alhasil, video itu membuat resah masyarakat khususnya penumpang pesawat.

"Pelakunya inisial H alias B. Pekerjaannya mekanik bengkel. Ini yang di bandara," ucapnya.

Menyoal motif, Yusri menuturkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, kebanyakan para pelaku mengaku hanya iseng membuat konten hoax itu.

"Hampir rata-rata motif dalam pemeriksaan mereka menyampaikan ini dengan keisengan mereka. Dari keisengan mereka ini, kemudian berbuah ke pidana buat mereka. Makanya kami harapkan masyarakat yang masih hobi keisengengan ini, dalam situasi sekarang Covid-19 ini, kami harapkan mereka setop sudah," jelasnya.

Yusri menegaskan, Polda Metro Jaya dan Polres jajaran akan terus melakukan patroli siber dan melakukan penyelidikan serta pengejaran apabila ditemukan informasi hoaks di jagat maya.

"Pesan sekali lagi, kami tidak akan pernah berhenti kejar pelaku-pelaku yang coba sebarkan berita bohong kepada masyarakat, saat masyarakat Indonesia menghadapi Covid-19 ini. Kita kejar dan kita tangkap, kita proses sesuai dengan hukum berlaku. Jejak digital tidak akan pernah hilang itu yang harus diketahui semuanya," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Iwan Kurniawan mengimbau kepada masyarakat agar bijak menyampaikan informasi di tengah situasi wabah corona.

"Saat ini, di mana pemerintah sedang bekerja keras tangani Covid 19 dan masyarakat penuh sensitif, saya harap masyarakat bisa bijak dalam rangka menyebarkan berita. Mohon dicek betul kebenaran berita itu," katanya.

Iwan menegaskan, polisi akan terus melakukan patroli siber secara rutin untuk memantau informasi yang beredar di media sosial. Jika ditemukan ada pemberitaan, postingan atau narasi yang mengandung kabar hoaks bakal langsung ditindak tegas dan diproses hukum.

"Kami Polda Metro Jaya dan jajaran akan terus memantau melalui patroli siber ini, terkait berita-berita di media sosial yang tidak memiliki kebenaran dan kami akan melakukan tindakan tegas," terangnya.

Iwan mengingatkan, jangan menganggap apabila unggahan sudah dihapus, polisi tidak bisa menelusuri bukti atau mencari alat bukti lain.

"Perlu diketahui biarpun sudah terhapus kita masih memiliki bukti lain yang bisa kita jadikan barang bukti untuk di sidang pengadilan. Kami juga memiliki kemampuan untuk mengangkat barang bukti tersebut," katanya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 28 ayat 1 juncto Pasal 45A ayat 1 dan/atau Pasal 32 ayat 1 juncto Pasal 48 ayat 1 dan/atau Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang lnformasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Kemudian, dapat juga dikenakan Pasal 14 ayat 1 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman 10 tahun bui.



Sumber: BeritaSatu.com