Pemkot Tangerang Selatan Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana

Pemkot Tangerang Selatan Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana
Begini Alur Penanganan Pasien Virus Corona ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
/ HS Selasa, 31 Maret 2020 | 09:09 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Pemerintah Kota Tangerang Selatan memperpanjang masa tanggap darurat bencana wabah penyakit Covid-19 hingga 29 Mei 2020 sesuai keputusan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggungan Bencana (BNPB).

Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2020), mengatakan pihaknya mengeluarkan kebijakan perpanjangan masa tanggap darurat Covid-19. Beberapa kebijakan tersebut di antaranya memperpanjang masa kegiatan belajar siswa di rumah. Mereka aktif lagi setelah Lebaran 2020. Hal ini merupakan upaya melindungi para siswa dari paparan virus corona.
Pemkot Tangerang Selatan juga terus mengoptimalkan imbauan kepada masyarakat untuk menjaga jarak dan bekerja serta ibadah di rumah.
Pengumuman perpanjangan masa darurat ini, kata Airin Rachmi Diany, hingga tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) agar semua pihak bisa bekerja sama dalam memutus rantai penyebaran virus corona.

Pihaknya juga akan terus memperbarui data mengenai sebaran Covid-19, mulai dari warga yang masuk orang dalam pengawasan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), terkonformasi, hingga dinyatakan sembuh. Data kasus Covid-19 di Kota Tangerang Selatan pada hari Senin (30/3), tercatat 280 ODP, 123 PDP, 31 orang positif, dan enam orang meninggal

Menurut Airin, merebaknya kasus virus corona di Kota Tangerang Selatan saat ini karena kesadaran masyarakat dalam menjalankan imbauan pemerintah masih rendah. Misalnya, penerapan social distancing maupun physical distancing. Bahkan, Airin mendapatkan laporan jika ada warga yang berkumpul di rumah makan.

"Kasus ini terus meningkat setiap waktu karena kesadaran belum tinggi. Kami imbau agar masyarakat bisa menjalankannya sebab ini untuk kesehatan kita semua," ujarnya.

Selain itu, Airin juga menyebutkan hampir 50 persen warga Kota Tangerang Selatan bekerja di Jakarta, Depok, dan Bogor. Kesadaran yang rendah dalam menjaga jarak, membuat peluang terpapar makin besar.

Oleh karena itu, Pemkot Tangerang Selatan melalui Dinas Ketenagakerjaan beberapa waktu lalu telah mengeluarkan imbauan kepada perusahaan untuk menerapkan sistem work from home (WFH). Meski masih ada perusahaan dengan kategori industri tertentu yang mengharuskan pegawainya datang ke kantor. Namun, kata Airin, penerapan social distancing suatu keniscayaan.

"Jika ada perusahaan yang diketahui karyawannya positif namun belum melakukan sistem WFH, bisa dilaporkan kepada kami untuk diambil tindakan," katanya.



Sumber: ANTARA