Dampak Virus Corona, Ratusan Pelaku Wisata Jip Merapi Terancam Gagal Angsur Cicilan Bank

Dampak Virus Corona, Ratusan Pelaku Wisata Jip Merapi Terancam Gagal Angsur Cicilan Bank
Ilustrasi penyewaan jip wisata di Merapi, DI Yogyakarta. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Rabu, 1 April 2020 | 08:52 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Tutupnya aktivitas pariwisata di lereng Gunung Merapi akibat dampak virus corona (Covid-19) membuat hampir seluruh pelaku wisata jip nihil pemasukan. Tak hanya kebingungan dalam menopang hidup, mereka juga kini sedang dipusingkan dengan cicilan di bank.

Pengunjung yang sepi membuat mereka terancam tak bisa membayar angsuran bank yang seharusnya rutin dibayarkan. Diperkirakan, sekitar 900 jip yang terdata saat ini, sebagian besar merupakan milik swadaya atau perorangan.

Bambang Sugeng, sebagai orang yang dituakan di Asosiasi Lereng Merapi mengatakan, saat ini wabah Covid-19 melumpuhkan perekonomian masyarakat yang bergantung pjuga ada sektor pariwisata. “Ya terdampak sekali bukan hanya perkemahan, bukan hanya jip, tetapi segala ruas (sektor pariwisata) kita bersama,” ujar pria yang akrab disapa Babe itu, Rabu (1/4/2020).

Diperkirakan ada 800 hingga 900 usaha jip dari wilayah lereng Merapi yang tidak beroperasi. Tempat wisata tersebut ditutup total sejak Senin (23/3/2020). Mereka kini tak punya pilihan selain mengindahkan anjuran pemerintah. Turis-turis yang tadinya akan menyewa jasa mereka pun urung, lantaran lebih memilih keselamatan agar terhindar dari Covid-19.

“Kemarin, akhirnya begitu mendadak bahasanya. Mendadak akhirnya ditutup aktivitas untuk wisata. Padahal, ya, termasuk tamu dari sebagian besar kita mengandalkan dari luar daerah. Kami yang di bawah (lereng Merapi) ini bener-bener akhirnya tidak ada tamu. Kami mengikuti juga anjuran pemerintah dan harus berhenti,” katanya.

Tak ada turis ditambah ditutupnya wisata yang entah sampai kapan, membuat mereka tak bisa menerka-nerka nasib ke depa. Apalagi, tanggungan para penggiat wisata tersebut tidak hanya untuk memenuhi pangan keluarga, tetapi juga mengangsur pinjaman di bank.

“Memang ada juga yang pinjam di bank, ada juga yang swadaya, juga ada yang menjual sapi. Berbagai macam (sumber dana) untuk membeli jip itu. Mulai dari menjadi tukan ojek mengumpulkan uang lalu beli jip. Dari usaha sendiri menngumpulkan juga ada,” kata Babe.

Menurut dia, sekitar 80% pelaku usaha wisata jip tersebut memiliki pinjaman di bank. Situasi seperti ini membuat dilema. Mereka tidak mendapat pemasukan, namun tetap harus membayarkan angsuran.

"Perekonomian langsung berhenti, padahal dari temen-temen semua merasakan nanti bagaimana ke depannya, bagaimana untuk mengembalikan. Istilahnya, sebagai nasabah, kami menjadi kebingungan. Hari ini, seminggu, dua minggu, mungkin masih bertahan hidup. Tetapi, kita tidak tahu rencana ke depan, karena pinjaman mereka lumayan besar,” ujar pria yang juga pengelola Bumi Perkemahan Wonogondang itu.

Para sopir jip mengatakan bahwa kini mereka tengah berada di situasi yang sulit. Heri, salah satu sopir mengaku bahwa ia kini memiliki pinjaman sebesar Rp 100.000.000 untuk usaha jipnya.

“Saya utang di bank sejak hampir satu tahun. Jadi, saya itu mengikut proses. Ibu saya berjualan makanan dan istri menjadi tukang foto. Jadi, buat membayar cicilan lebih ringan. Ternyata, karena ini setelah ada wabah Covid-19, kami memikirkan angsuran di bank,” ungkap Heri.

Tak hanya usaha Heri saja yang macet, usaha istrinya maupun ibunya juga terhenti lantaran wabah Covid-19. Saat ini Heri sedang kebingungan untuk membayarkan angsuran.

“Kalau untuk angsuran paling dekat bulan ini masih bisa. Untuk makan masih bisa. Cuma ini kalau untuk kelanjutannya, kami tidak tahu,” jawabnya pasrah.

Sama seperti Heri yang berhutang di bank, Slamet juga mengandalkan pinjaman untuk mendanai usahanya. Ia memiliki pinjaman sebesar Rp 60.000.000. Pada awalnya, pembayaran angsuran berjalan lancar, namun kini dia ragu apakah bisa menjalankan kewajibannya mengingat kini nihil pemasukan.

“Angsuran lancar kemarin-kemarin.Llancar sejak jip Lava Tour ramai. Cicilan bulan Maret ini tidak bisa mengansur, karena untuk biaya hidup,” ujar Slamet.

Keduanya kini bergantung pada janji Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat mengungkapkan akan menginstruksikan kelonggaran angsuran hingga satu tahun dan juga pengurangan bunga. Hal ini menyusul banyak masyarakat terdampak secara langsung yang rugi akibat tidak bisa bekerja karena wabah virus corona.

Saat ditanya apakah sudah mencoba mengajukan keringanan kepada pihak bank, Slamet mengaku ia telat membayar angsuran yang seharusnya jatuh pada 24 Maret ini. Bahkan, ia mengaku tak berani pergi ke bank lantaran tak membawa uang.

“Belum pernah mencoba pengajuan. Tetapi, saya ingin agar imbauan pemerintah, dari Bapak Presiden soal penundaan satu tahun dan nonbunga itu benar-benar terwujud. Saya belum coba, karena takut ke bank tidak bawa uang. Ingin sih ke sana meminta kejelasan tentang pernyataan Pak Jokowi di TV. Ingin kejelasan yang sama antara penjelasan Bapak Presiden dan bank,” ungkapnya.

Senada dengan Slamet, Heri juga kini ingin sekali menanyakan kepada pihak bank mengenai kebijakan yang diumumkan Presiden. Baginya, hal tersebut membawa secerca harapan berupa kelonggaran membayar angsuran bagi orang seperti dirinya.

Hingga kini ia sendiri mengaku belum mendapat kejelasan mengenai kebijakan yang diumumkan Presiden Jokowi dengan yang terjadi di lapangan. Menurut dia, ada versi yang berbeda-beda dari bank. Menurut Heri, ada temen mereka yang sudah mengurus kelonggaran pembayaran cicilan kredit, tetapi malah dikenakan bunga.

"Jadi, dalam satu tahun ini tidak diundur. Dalam satu tahun tetap harus membayar bunga, sementara pekerjaan sudah tidak ada. Sekarang, kalau ada uang, hanya untuk persiapan kebutuhan pokok. Sampai, entah, tidak tahu. Sekarang masih mampu. Kalau lama seperti ini, kami bisa kesusahan,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com