Lockdown Tidak Sesederhana Seperti yang Dibayangkan

Lockdown Tidak Sesederhana Seperti yang Dibayangkan
Bupati Tangerang Zaki Iskandar (kiri), Gubernur Banten Wahidin Halim (tengah), Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi (kanan) memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi terkait COVID-19 di Pendopo Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Minggu, 15 Maret 2020. ( Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/aww. )
Siprianus Edi Hardum / EHD Rabu, 1 April 2020 | 09:56 WIB

Serang, Beritasatu.com - Gubernur Banten Wahidin Halim mengaku mendapatkan banyak pertanyaan dan permintaan dari warga Banten terkait lockdown Jakarta meskipun masih simulasi.

Ada begitu banyak masyarakat yang meminta agar segera dilakukan karantina wilayah atau lockdown, mengingat semakin meningkatnya jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di Provinsi Banten, serta pasien positif Covid-19.

Gubernur Banten mengatakan, lockdown tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Lockdown itu tidak sekadar menutup pintu. Tidak sekadar menolak orang yang datang dari luar. Banten sudah terintegrasi dengan Jakarta. Sehari-harinya orang Banten cari pekerjaan, cari upah, cari penghidupan ke ibu kota (Jakarta),” ujar Wahidin Halim di Serang, Rabu (1/4/2020).

Wahidin mengatakan, Pemprov Banten sedang membahas masalah lockdown yang bertujuan untuk mencegah dan memutus mata rantai penularan virus corona (Covid 19). Pihaknya membahas masalah lockdown bersama Kapolda Banten dan Danrem 064 Maulana Yusuf.

"Jadi, Banten dengan Jakarta itu daerah yang sudah menjadi kawasan yang terintegrasi. Sehingga kita susah untuk memantau pergerakan. Termasuk kulturnya, tradisinya, dan kebiasaannya. Kami sedang cari formulasi. Format bagaimana berhadapan dengan tuntutan dan permintaan masyarakat," jelasnya.

Wahidin mengatakan, harus hari-hati dengan pertimbangan sosial, politik, dan penting pertimbangan ekonomi. Tentunya jangan sampai menambah pengangguran baru. “Kalau mereka menganggur, apa yang mau mereka makan. Ada tanggung jawab negara di situ,” tegasnya.

Wahidin mengungkapkan, Tangerang disebut kota commuter karena orang Tangerang Raya bekerja di Jakarta. Cari makan di Jakarta. Cari sesuap nasi pun di Jakarta. Ada simbiosis mutualisme antara daerah ini.

"Tiap hari, bayangkan. Orang-orang dari Tangerang, Banten, Cilegon, sehari-hari berbondong-bondong dengan mobilitas tinggi ke Jakarta. Sore hari mereka pulang,” ungkapnya.

Wahidin menjelaskan, Pemprov Banten menunggu sejauh mana Jakarta memperlakukan lockdown, menutup pintu bagi warga Banten. Pemprov Banten harus bersiap-siap secara ekonomi supaya tidak punya ketergantungan. Dari segi profesi dan pekerjaan, ketergantungan Banten kepada Jakarta tinggi.

"Posisi Banten juga sama dengan Jawa Tengah. Soal pulang mudik, setiap hari orang Banten pulang mudik. Tidak hanya dari transportasi bus dan kereta api, mereka juga menggunakan motor, lewat jalan-jalan dan gang kecil. Ini tidak bisa dibendung," jelasnya.

Menurut Wahidin, banyaknya ODP di Banten karena banyak orang Jakarta atau orang Banten yang tinggal di Jakarta pulang kembali ke Banten.  "Demikian juga pasien positif yang saya temukan juga kalau berobat mereka ke Jakarta. Mungkin penuh, mereka bergeser ke rumah sakit-rumah sakit di Tangerang atau yang ada di Banten," pungkasnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com