Akhir Juni, Diprediksi Puncak Kasus Covid-19

Akhir Juni, Diprediksi Puncak Kasus Covid-19
Doni Monardo. ( Foto: B1/Mohammad Defrizal )
Dina Manafe / EAS Kamis, 2 April 2020 | 20:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala BNPB, Doni Monardo mengatakan, penyebaran virus corona (Covid-19) seperti fenomena gunung es. Kasusnya sebenarnya di masyarakat mungkin lebih dari yang dilaporkan.

Menurut skenario berdasarkan kajian Badan Intelegen Nasional (BIN), estimasi jumlah kasus akan mencapai puncaknya pada bulan Mei. Perkiraan kasus di akhir Maret sebanyak 1.577, dan realitasnya jumlah kasus konfirmasi positif sebanyak 1.528 kasus. Akurasi prediksinya sebesar 99%. Sementara estimasi di akhir April sebanyak 27.307 kasus, dan akhir Mei 95.451 kasus. Puncaknya kira kira berada pada akhir Juni sebanyak 105.55 kasus, dan akhir Juli 106.287 kasus.

"Tetapi ini hanya estimasi. Kalau kita bisa melakukan berbagai langkah pencegahan, mudah mudahan kasus yang terjadi tidak seperti apa yang diprediksi,” kata Doni pada rapat kerja secara virtual Komisi IX DPR bersama Menteri Kesehatan, Menteri Ketenagakerjaan, dan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Kamis (2/4/2020).

Menurut Doni, terdapat 50 kabupaten/kota prioritas dari 100 kabupaten/kota yang memiliki tingkat risiko tinggi, di mana 49% di antaranya berada di Pulau Jawa.

Dihubungi terpisah, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra justru memiliki perkiraan berbeda. Menurut dia, puncaknya jumlah kasus ini justru terjadi di bulan April minggu ketiga dan keempat.

Asumsi dasarnya, satu orang positif Covid-19 akan menyebabkan dua orang lain menjadi positif. Laju penggandaan satu ke dua ini seperti multilevel, dan terjadi setiap empat hari sekali. Kalau hari ini, Kamis (2/4/2020), jumlah kasusnya mencapai 1.790 positif, maka empat hari ke depan dikali dua, sehingga menjadi 3.580 kasus. Selama bulan April, hitungannya adalah 7.160 kasus hari ini dikali 7, maka prediksinya jumlah kasus mencapai 12.530 kasus di akhir April.

"Jadi antara April dan Mei puncaknya. Tapi ini kalau ada intervensi dari pemerintah. Kalau tidak ada intervensi signifikan, maka angkanya naik terus dan akan meluas ke berbagai daerah,” kata Hermawan.

Menurut Hermawan, pemerintah harus berpacu dengan kecepatan penularan virus melalui pergerakan orang ke berbagai wilayah. Kalau upaya pencegahan untuk memutus mata rantai penularannya tidak cepat dilakukan, Indonesia akan hadapi kondisi terburuk. Karena wilayah Indonesia sangat luas dengan jumlah penduduknya 268 juta jiwa atau terbesar keempat dunia, tersebar di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan ribuan pulau.

"Saking luasnya negara kita, kalau tidak cepat mencegah penularan maka bisa ngeri. Jadi virus ini tidak main-main, tidak kenal negara kaya atau negara miskin,” kata Hermawan.



Sumber: BeritaSatu.com