Kasus Harun Masiku, Kader PDIP Didakwa Suap Eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan

Kasus Harun Masiku, Kader PDIP Didakwa Suap Eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan
Wahyu Setiawan. (Foto: Antara)
Fana F Suparman / WM Kamis, 2 April 2020 | 17:09 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Kader PDIP, Saeful Bahri didakwa telah menyuap mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan sebesar Sin$ 57.350 atau setara sekitar Rp 600 juta. Suap ini diberikan Saeful Bahri agar Wahyu mengupayakan KPU menyetujui permohonan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota Fraksi PDIP di DPR dari Riezky Aprilia ke Harun Masiku. Padahal, suap itu bertentangan dengan jabatan Wahyu Setiawan selaku penyelenggara negara.

"Telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut, memberi atau menjanjikan sesuatu," kata jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat dakwaan terhadap Saeful Bahri, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (2/4/2020).

Uang suap itu diberikan kepada Wahyu secara bertahap. Jaksa mengatakan, perbuatan itu dilakukan Saeful bersama-sama dengan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina.

Perkara ini bermula dari adanya surat permohonan PDIP ke KPU agar suara sah dari caleg atas nama Nazaruddin Keimas yang sudah meninggal dunia dialihkan ke Harun Masiku. Surat permohonan itu diajukan berdasarkan hasil rapat pleno PDIP yang memutuskan Harun Masiku sebagai caleg yang menerima suara sah Nazaruddin Kiemas.

Padahal, Jaksa menyatakan, berdasarkan hasil rekapitulasi KPU pada 21 Mei 2019 terkait perolehan suara Caleg PDIP Dapil Sumsel 1, Harun Masiku hanya memperoleh 5.878 suara, Nazarudin Kiemas tak memperoleh suara, sedangkan suara tertinggi diperoleh Riezky Aprilia.

Lantaran tak diakomodir KPU, Harun Masiku meminta kepada Saeful agar mengupayakan dirinya dapat menggantikan Riezky Aprilia.

Dalam surat dakwaan disebutkan, pada September 2019, Saeful Bahri menghubungi Agustiani Tio Fridelina, yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Wahyu. Saat itu, Saeful meminta Agustiani melobi Wahyu untuk mengusahakan agar Harun bisa menggantikan Riezky.

Dalam komunikasi itu, Saeful juga menjanjikan akan memberikan uang operasional sejumlah Rp 750 juta untuk KPU bila permohonan PAW tersebut disetujui.

Kemudian, terdapat kesepakatan bahwa uang untuk mengupayakan pelolosan Harun Masiku sebesar Rp 1,5 miliar. Penyerahan uang dilakukan bertahap yakni sebanyak Rp 400 juta, dan kemudian Rp 200 juta.

Selanjutnya, Wahyu meminta Agustina untuk mentransfer sebagian uang yang telah diterima dari Saeful dan Harun ke rekeningnya. KPK kemudian mengamankan Wahyu Setiawan dan sejumlah pihak lainnya. Saat tangkap tangan terjadi, uang yang diserahkan baru senilai Rp600 juta.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Saeful didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

 



Sumber: BeritaSatu.com