Beroperasi 6 April, RS Pulau Galang untuk Observasi WNI dari Luar Negeri

Beroperasi 6 April, RS Pulau Galang untuk Observasi WNI dari Luar Negeri
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksamana Madya Yudo Margono melaksanakan apel pelepasan pasukan yang bertugas melakukan observasi terhadap 188 WNI ABK World Dream ke Pulau Sebira Kecil di dermaga Kolinlamil Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (26/2/2020). ( Foto: istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 3 April 2020 | 10:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Rumah sakit (RS) darurat untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Pulau Galang, Kepulauan Riau, segera beroperasi pada 6 April mendatang. RS darurat itu akan fokus untuk menangani warga negara Indonesia yang datang atau dievakuasi dari luar negeri dan harus menjalani masa karantina atau observasi.

Hal itu dikatakan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan Pangkogabwilhan) I TNI, Laksamana Madya Yudo Margono dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/4/2020). “Saat ini RS darurat di Pulau Galang sudah siap 96 persen dan segera beroperasi pada 6 April nanti,” ujarnya.

Dikatakan, RS darurat tersebut merupakan bekas tempat penampungan pengungsi asal Vietnam, sehingga selain ada bangunan baru, juga ada bekas-bekas bangunan tempat pegungsian yang harus direnovasi agar bisa dijadikan RS darurat.

“Ada gedung observasi yang bisa menampung 240 bed (tempat tidur, Red), ada juga dua gedung yang masing-masing bisa menampung 50 bed, serta gedung pendukung lainnya. Total bisa menampung 460 orang,” kata Yudo.

Dijelaskan, untuk sementara, RS darurat itu akan digunakan untuk orang-orang atau warga negara Indonesia yang baru pulang atau dievakuasi dari luar negeri. Mereka akan menjalani observasi di RS darurat tersebut.

Namun, jika tidak ada WNI dari luar negeri yang harus diobservasi, RS itu bisa digunakan oleh warga lain. Yudo menjelaskan, RS darurat Pulau Galang hanya digunakan untuk pasien dengan kondisi ringan dan sedang.

“Jaraknya tidak jauh dari Kota Batam, hanya sekitar 30 menit perjalanan darat, namun RS tersebut jauh dari permukiman,” ujar Laksdya Yudo. Dia juga menjelaskan, di RS itu juga dibangun helipad agar bisa mengevakuasi korban yang dalam kondisi berat. Selain itu, lokasi RS juga bisa dijangkau dengan kapal.



Sumber: BeritaSatu.com