Nadiem Ungkap Lima Strategi Tingkatkan Skor PISA

Nadiem Ungkap Lima Strategi Tingkatkan Skor PISA
Nadiem Makarim. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / FER Jumat, 3 April 2020 | 16:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengatakan, ada lima strategi yang akan dilakukan untuk meningkatkan skor Programme International Student Assessment (PISA).

Baca: Mendikbud Sampaikan Pesan Solidaritas Indonesia Lawan Corona

Nadien menjelaskan, PISA merupakan assessment global sistem pendidikan di berbagai negara yang diujikan ke anak 15 tahun. Skor Indonesia masih perlu banyak perbaikan, terutama di area literasi yang mengalami penurunan.

"Karena itu, kami butuh strategi yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga pada 2024 atau 2025 akan terlihat peningkatan,” kata Nadiem Makarim seusai mengikuti ratas dengan Presiden Joko Widodo, Jumat (3/4/2020).

Dalam ratas tersebut, lanjutnya sudah disepakati ada lima strategi besar untuk meningkatkan peringkat atau skor PISA. Strategi pertama, mengubah standar penilaian sendiri. Nantinya, Ujian Nasional (UN) akan menjadi assesment kompentensi minimum yang terinspirasi PISA dan soal-soalnya pun melekat dengan PISA. Tetapi karena PISA hanya untuk anak usia 15 tahun, maka untuk mempersiapkannya, format assessment berstandar internasional seperti PISA akan diturunkan ke tingkat SD, SMP dan SMA.

"Jadi ada setiap jenjang mengikuti standar internasional, yaitu PISA dalam pemetaan pendidikan. Karena UN standarnya lokal, tapi assessment pendidikan kita internasional,” ujar Nadiem Makarim.

Baca: 15.000 Mahasiswa Siap Jadi Relawan Covid-19

Menurut Nadiem, yang diujikan dalam assessment berstandar internasional ini bukan hanya kognitif saja, tetapi juga karakter dan hal-hal yang berhubungan dengan norma, kesehatan mental, kesehatan moral dan kesehatan anak-anak di masing-masing sekolah. "Kita mengubah standar penilaian global, yaitu PISA,” tuturnya.

Strategi kedua, melakukan transformasi kepemimpinan sekolah untuk memastikan guru-guru penggerak terbaik di berbagai daerah menjadi kepala sekolah. Mereka diberikan fleksibilitas dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan teknologi, untuk meminimalisir beban administrasi. Sehingga, mereka bisa fokus kepada mentoring guru-guru di dalam sekolah masing-masing.

Strategi ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru (PPG), agar dapat mencetak guru yang berkualitas. Untuk itu, pihaknya akan membuka program PPG untuk guru lokal dan internasional sehingga dapat menciptakan alumni-alumni yang lebih baik lagi.

"Karena ada banyak guru-guru yang pensiun setiap tahunnya. Jadi pabrik guru kita harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Pelatihan-pelatihan guru sekarang sifatnya jangan hanya teoritis, tapi praktik. Ada pelatihan dengan sekolah-sekolah yang kualitasnya lebih baik. Jadi bukan hanya seminar, tapi dengan interaksi antara guru dengan guru,” terang Nadiem Makarim.

Baca: Pembatalan UN untuk Keamanan dan Kesehatan Siswa

Strategi keempat, melakukan transformasi pengajaran yang sesuai tingkat kemampuan siswa. Menurutnya, sekarang karena banyak silabus dan kebijakan mengajar sangat ketat telah membuat banyak guru yang tidak bisa mengajar dengan tingkat kemampuan siswa.

"Jadi kurikulum harus lebih fleksibel dan sederhana. Orientasi kompetensi dan dibantu juga dengan platform-platform online yang membantu segmenetasi pembelajaran. Jadi semua murid tidak harus mengerjakan tugas yang sama. Misalnya murid dengan kemampuan yang berbeda mengerjakan project yang berbeda,” jelas Nadiem Makarim.

Strategi kelima, filsafat bahwa semua transformasi atau perubahan hanya di kementerian akan berubah. "Kemitraan kita dengan daerah dan berbagai organisasi penggerak akan ditingkatkan. Kami percaya partisispasi masyarakat, organisasi, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, efek teknologi startup di pendidikan semua dirangkul untuk menyasar pendidikan pembelajaran siswa," pungkas Nadiem Makarim



Sumber: BeritaSatu.com