Denny JA: Mudik Dibiarkan, RI Bisa Masuk 5 Besar Negara Terpapar Covid-19

Denny JA: Mudik Dibiarkan, RI Bisa Masuk 5 Besar Negara Terpapar Covid-19
Ilustrasi tunda mudik, ( Foto: Istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Sabtu, 4 April 2020 | 10:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Posisi Indonesia bisa melejit ke lima besar negara paling terpapar Covid-19 jika pemerintah tidak melarang masyarakat untuk mudik.

Hal itu dikatakan konsultan politik Denny JA dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Posisi per 4 April 2020 pukul 09.00 WIB, lima negara yang paling terpapar Covid-19 adalah Amerika Serikat ranking pertama dengan 277.161 kasus, lalu Italia 119.827 kasus, Spanyol (119.199 kasus), Jerman (91.159 kasus), dan Tiongkok dengan 81.639 kasus. Indonesia di posisi 37 dengan 1.986 kasus.

“Tapi jika Jokowi tidak melarang dengan keras mudik Lebaran, besar kemungkinan Indonesia segera melejit masuk ke dalam lima besar negara yang paling terpapar Covid-19,” kata Denny.

Ia memberikan hitung-hitungan sederhana. Tahun lalu, dari wilayah Jabotabek saja, jumlah pemudik mencapai 14, 9 juta penduduk. Angka itu membengkak jika ditambah penduduk kota besar lain.

Jika diasumsikan mudik tahun 2020 di angka 14,9 juta untuk seluruh Indonesia, di kampung halaman, mereka akan berinteraksi dalam kultur komunal. Mereka berjumpa keluarga besar, tetangga, dan sahabat.

“Katakanlah rata-rata 1 orang yang mudik berinteraksi dengan 3 orang lainnya. Maka mudik menyebabkan interaksi sekitar 45 juta penduduk Indonesia,” kata dia.

Jadi, tambah Denny JA, jika 1% saja dari jumlah populasi pascamudik itu terpapar Covid-19, artinya setelah mudik akan ada 450.000 penduduk Indonesia menjadi korban. Angka itu sudah melampaui populasi korban di Amerika Serikat yang kini berada di puncak negara paling terpapar virus corona.

Tidak Cukup Imbauan
Menurut Denny, pemerintah tak cukup lagi hanya mengimbau. Misalnya, mereka yang mudik diimbau karantina 14 hari. Atau yang pergi atau pulang mudik statusnya menjadi ODP dan PDP. Tapi jumlah sebanyak 14,9 juta itu akan diisolasi di mana? Cukupkah infrastuktur kesehatan kita mengurus populasi sebanyak itu?

Ia menambahkan, kondisi sekarang saja, banyak RS dan tenaga media menjerit kekurangan fasilitas. Saat ini, jumlah pasien yang meninggal dunia di Indonesia lebih banyak dibandingkan yang sembuh.

“Bagaimana infrastuktur kesehatan kita siap dan mampu menampung lonjakan korban pascamudik?” ujarnya.

Denny memuji sikap MUI yang cukup sensitif dan berani menyatakan mereka yang mudik dari wilayah pandemik hukumnya haram. Bukan dalil agama yang akan ditekankan di sini, namun Sekjen MUI mencoba meminimalkan orang mudik menggunakan instrumen yang ia kuasai.

Tetapi, tegas Denny, tetap yang paling efektif melakukan intervensi mudik adalah pemerintah pusat.

Ia menyarankan, agar pemerintah pusat tidak disalahkan, Jokowi perlu mempertimbangkan dua hal. Pertama, melarang mudik yang diikuti kontrol ketat pihak keamanan di semua jalur mudik.

Kedua, carikan solusi untuk mereka yang ingin pulang kampung karena kesulitan ekonomi untuk hidup di kota masa kini.

Jokowi sudah mengumumkan paket menyeluruh untuk Covid-19 dengan total Rp 405 triliun. Publik perlu diberi informasi rinci.

Mereka yang tak bisa mudik, yang ekonominya merosot untuk kebutuhan dasar, bagaimana agar mereka mudah mendapatkan akses program itu.

Dikatakan, virus corona di dunia semakin cepat menyebar karena momen hari raya Imlek 25 Januari 2020. Di indonesia, mudik dan lebaran mediumnya, bukan Imlek.

“Ini situasi tak normal. Mudik biasanya begitu hangat dan menggembirakan. Kini mudik justru menakutkan. Namun, Jokowi berada dalam posisi menentukan bagaimana mudik 2020 akhirnya dikenang,” tambah Denny JA.