MUI: Jangan Tolak Pemakaman Pasien Covid-19

MUI: Jangan Tolak Pemakaman Pasien Covid-19
Petugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin 30 Maret 2020. ( Foto: Antara Foto )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Sabtu, 4 April 2020 | 14:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat muslim untuk menunaikan kewajiban terhadap jenazah muslim yang menjadi korban corona (Covid-19) sesuai ajaran agama, dan tidak menolak pemakaman jenazah tersebut.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorum Niam Saleh mengatakan, setiap muslim yang menjadi korban Covid-19 adalah syahid fil akhiroh memiliki kemuliaan di mata Allah.

"Dalam konteks hak-hak duniawi ada hal-hal yang harus dipenuhi mulai dari pemandian, pengkafanan, penyolatan hingga penguburan," katanya dalam telekonferensi di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Asrorum menjelaskan, di sisi lain protokol-protokol kesehatan perlu dijaga tetapi pada saat yang sama ketentuan agama harus ditaati.

Ia menguraikan, proses pemandian jenazah tidak mesti harus dilepaskan bajunya. Jika memungkinkan proses pengucuran air ke seluruh tubuh. Apabila tidak mungkin agama memberi kelonggaran ditayamumkan.

Jika tidak dimungkinkan itu karena pertimbangan teknis keamanan langsung dikafankan.

Proses pengkafanan ada ketentuan ditutupi seluruh tubuh tetapi pada saat yang sama bisa dilakukan proteksi dengan menggunakan plastik yang tidak tembus air.

Dalam batas tertentu dimasukkan ke dalam peti dan proses disinfeksi dimungkinkan secara syar'i.

Setelah itu dalam proses penyolatan, dipastikan tempat salat suci, aman dari proses penularan dan dilakukan minimal satu orang. Untuk pemakaman, hak jenazah juga harus ditunaikan.

"Jika mengikuti protokol kesehatan dan pengurusan jenazah juga ketentuan fatwa maka tidak ada kekhawatiran lagi penularan terhadap orang yang hidup," ucapnya.

Kekhawatiran dan kewaspadaan tetap penting tetapi harus dibingkai ilmu pengetahuan dan pemahaman yang utuh.

"Jangan sampai karena kekhawatiran dan minus pengetahuan yang memadai kemudian kita berdosa karena penolakan pemakaman," imbuh Asrorum. 



Sumber: BeritaSatu.com