Masyarakat Diimbau Tidak Tolak Pemakaman Korban Corona

Masyarakat Diimbau Tidak Tolak Pemakaman Korban Corona
Sejumlah petugas medis memakamkan jenazah pasien positif Covid-19 dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. ( Foto: ANTARA FOTO / Iggoy el Fitra )
Ari Suprianti Rikin / JAS Sabtu, 4 April 2020 | 23:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) mengajak masyarakat berempati terhadap keluarga jenazah Covid-19 dan tidak menolak pemakaman jenazah yang sudah mengikuti prosedur kesehatan.

Direktur Utama Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura yang juga Pengurus Muhammadiyah Covid-19 Command Center Umi Sjarqiah mengatakan, perawatan jenazah Covid-19 sampai dikuburkan dilakukan sesuai standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

Saat di rumah sakit sudah lakukan standar isolasi baik untuk petugas, untuk pasien dan keluarga. Apabila mendesak jenazah juga dapat dimakamkan tanpa dimandikan atau dikafani.

Hal ini dalam rangka menghindarkan tenaga penyelenggara jenazah dari paparan Covid-19 dengan pertimbangan hukum syariah.

"Kita tahu jenazah yang sudah ditangani dengan baik aman untuk dikuburkan, karena virus hanya hidup di sel hidup dan jenazah yang telah dikubur tidak menularkan virus," katanya dalam telekonferensi di kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Ia menjelaskan, yang harus dilakukan adalah menghindari cairan tubuh jenazah dari mulut, hidung, mata, anus, kemaluan, maupun luka-luka di kulit. Disinfeksi pasti dilakukan, kemudian tahapan membungkus jenazah dengan plastik, kafan, plastik lagi, kantong jenazah lalu peti.

"Perlindungan diri yang benar bagi petugas pengelola jenazah, disinfeksi diri dan APD setelah selesai pengananan. Jadi jangan khawatir kalau itu semua sudah dilakukan insyaallah aman," ucapnya.

Apabila darurat dan mendesak jenazah dapat dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafani dalam rangka penghindaran pengelola jenazah dari paparan Covid-19. Begitu pula dilakukan upaya meminimalkan kontak jenazah baik kendaraan atau transportasi. Jenazah juga dikuburkan empat jam setelah meninggal.

Penyelenggaraan Salat Jenazah dapat diganti Salat Gaib di rumah masing-masing, adapun takziah dilakukan terbatas dengan memperhatikan hal-hal yang terkait penanggulangan Covid-19 atau dilakukan secara daring. Tujuannya agar tidak terkontaminasi virus.

"Harus kita ketahui penyakit menular bukan hanya Covid-19. Prosedur penanganan jenazah untuk penyakit lain di mana ada mikroba di cairan tubuh jenazah yaitu dahak bisa terjadi di pasien TBC, dan penyakit ISPA cairan hidung dan ludah di difteri, pertusis, coccus, influenza. Cairan kelamin gonore, sifilis. Nanah pada herpes, radang-radang kulit dan ASI pada pasien HIV," katanya.

Ia pun mengingatkan, jangan menolak pasien Corona, sebab pasien yang meninggal adalah saudara kita. Penghormatan harus diberikan dengan baik.

Senada dengan itu, Ketua Satuan Tugas NU Peduli Covid-19 Muhammad Makky Zamzani mengimbau masyarakat memberikan penghormatan yang baik ke keluarga pasien Covid-19 yang meninggal dan jangan memberi stigma. Beri pengertian ke keluarga korban bahwa almarhum adalah golongan syahid.

"Pasien positif termasuk korban, mereka tidak ingin tertular Covid-19. Jadi kita harus paham ini korban. Jangan pernah mendiskriminasi mereka," katanya.

Apabila menemukan ada pasien dari warga tidak mampu, sebaiknya dibantu makanan minuman agar saat isolasi di rumah, pasien ini tetap sejahtera dalam konsumsi hariannya.



Sumber: BeritaSatu.com