UMKM Jambi Eksis di Tengah Imbas Pandemi Corona

UMKM Jambi Eksis di Tengah Imbas Pandemi Corona
Produk rempeyek dan tempe goreng Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Ilham Snack Kota Jambi yang tampil dengan kemasan profesional kini mampu menembus pasar regional Sumatera. Gambar diambil di Jambi, Sabtu, 4 April 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / JEM Minggu, 5 April 2020 | 19:54 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Pemanfaatan aplikasi digital ternyata mampu mempertahankan eksistensi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Jambi, Provinsi Jambi di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemo virus corona (Covid–19). Melalui aplikasi digital, UMKM di kota tersebut masih mampu memasarkan produk , sehingga UMKM tidak sampai tutup.


Ketua Asosiasi Makanan dan Minuman (Asmami) Kota Jambi, Zaitun kepada Beritasatu.com d Jambi, Minggu (5/4/2020) mengatakan, sekitar 100 unit UMKM anggota Asmami Kota Jambi masih bisa bertahan di tengah pandemi virus corona. UMKM anggota Asmami Kota Jambi bisa bertahan melalui peggunaan aplikasi digital untuk pemasaran .

“Memang virus korona berimbas banyak terhadap kegiatan UMKM di Kota Jambi. Kegiatan usaha, baik produksi, pemasaran dan transaksi anjlok drastis hingga 50 % akibat banyaknya toko dan pasar swalayan tutup selama musim virus corona ini.

Tetapi UMKM anggota Asmami Kota Jambi masih bisa bertahan atau tidak sampai tutup karena memanfaatkan aplikasi digital untuk promosi, penjualan dan distribusi,”ujarnya.

Salah satu UMKM anggota Asmami Kota Jambi yang masih bertahan di tengah pendemi virus corona berkat penggunaan aplikasi digital, yaitu usaha industri rumah tangga pembuatan rempeyek dan tempe goreng Ilham yang dikelola Zaitun dan kawan-kawan.

Di tengah imbas virus corona saat ini, UMKM Ilham Snack Kota Jambi masih bisa memproduksi rempeyek dan tempe goreng rata-rata 500 bungkus/hari atau turun 50 % dibandingkan produksi masa normal rata-rata 1.000 bungkus/hari. Turunnya produksi Ilham Snack Kota Jambi itu disebabkan tutupnya toko-toko dan pasar swalayan (mall) di Kota Jambi dan berbagai kota lain di Sumatera.

Sebelum virus corona mewabah, lanjut Zaitun, produksi rempeyek dan tempe goreng Ilham Kota Jambi mencapai 1.000 bungkus setiap hari. Dengan harga rempeyek dan tempe goreng Rp 7.500/bungkus, Ilham Snack Kota Jambi bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 500.000 sehari atau Rp 225 juta/bulan. Jika dikurangi modal usaha dan upah rata-rata Rp 5 juta/hari atau Rp 125 juta/bulan, maka kami bisa mendapatkan penghasilan Rp 100 juta/bulan.

“Namun setelah musim korona, khususnya Maret ini, produksi kami di bawah 500 bungkus/hari. Hasil penjualan pun berkurang hingga Rp 25 juta/bulan. Namun usaha kami tidak sampai tutup karena pemasaran melalui aplikasi digital masih jalan. Pengiriman produk Ilham Snack Kota Jambi dari pusat produksi di Lorong Teladan, Nomor 58, RT31, Kelurahan Payolebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi dilakukan memanfaatkan ojek online (ojol).

Zaitun mengatakan, sekitar 100 unit UMKM yang bernaung di bawah Asmami Kota Jambi sudah hampir satu tahun memanfaatkan aplikasi digital untuk pengembangan usaha. Anggota Asmami Kota Jambi banyak bergabung dengan aplikasi ekonomi digital, yakni seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee. Melalui jaringan toko – toko online tersebut, pemasaran produk UMKM sudah menembus pasar yang lebih luas.

Sejak bergabung dengan Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee, lanjut Zaitun, produk rempeyek dan tempe goreng Ilham Snack Kota Jambi sudah merambah ke beberapa pasar swalayan di Provinsi Lampung, Palembang, Sumatera Selatan dan Pekanbaru, Provinsi Riau.

Zaitun mengharapkan wabah virus corona yang memukul perekonomian dunia dan nasional ini bisa berakhir, sehingga toko-toko, pasar swalayan dan mall bisa buka kembali dan konsumen pun bisa leluasa berbelanja. Dengan demikian usaha UMKM di Kota Jambi bisa bangkit kembali.

Dukungan Pemerintah
Sementara itu, Sekretaris Disperindag Kota Jambi, Doni Triadi mengatakan, produk UMKM di Kota Jambi sudah saatnya diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat melalui pasar modern dan media online melalui aplikasi ekonomi digital. Hal itu penting agar konsumen lebih mengenal berbagai hasil produk kerajinan, makanan, minuman dan produk lain UMKM Kota Jambi.

“Kalau hanya mengandalkan pemasaran secara tradisional, yakni menitipkan ke produk UMKM di toko-toko atau menjualnya secara berkeliling, pemasaran produk UMKM di Kota Jambi pasti akan menemui jalan buntu. Konsumen kurang mengenal dan kurang berminat membelinya,”ujarnya.

Dijelaskan, pemasaran produk melalui aplikasi digital kepada pelaku UMKM di Kota Jambi masih perlu ditingkatkan agar usaha mereka cepat berkembang. Jika UMKM di Kota Jambi berkembang, UMKM berpotensi mengatasi kemiskinan di kota itu.

Menurut Doni Triadi, hingga saat ini ada sekitar 2.000 unit UMKM di Kota Jambi. Meeka bergerak di bidang usaha kerjainan, makanan, minuman, batik dan sebagainya. Namun jumlah UMKM yang sudah masuk aplikasi digital masih sedikit, belum mencapai 25 %.

Aplikasi ekonomi digital, lanjut Doni Triadi tidak hanya melulu mempermudah produk UMKM dikenal di pasaran yang lebih luas dan cepat laku terjual. Melalui aplikasidigital juga para pelaku UMKM memiliki kesempatan memperoleh edukasi atau pendidikan di bidang peningkatan kualitas produk, termasuk kualitas dari aspek kesehatan dan penggunaan kemasan.

Dikatakan, kendala yang kini dialami pelaku UMKM untuk memasarkan produk makanan dan minuman melalui aplikasi digital, yaitu kesulitan memperoleh izin label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). 



Sumber: BeritaSatu.com