Sultan HB X: Jangan Paranoid dengan Tenaga Medis yang Tangani Covid-19

Sultan HB X: Jangan Paranoid dengan Tenaga Medis yang Tangani Covid-19
Sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyapa masyarakat dalam "Sapa Aruh Sri Sultan Hamengku Buwono X: Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona" di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Senin, 23 Maret 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / LES Selasa, 7 April 2020 | 08:04 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Gubernur DI Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan (paranoid) terhadap tenaga kesehatan yang menangangi wabah virus corona. Karena sebagai tenaga medis, pasti sudah menjalani SOP (Standar Operasional Prosedur) jika keluar dari ruang kerjanya.

Hal itu diungkapkan Sultan, Senin (6/4/2020) menganggapi keresahan masyarakat yang bertetangga dengan dokter/paramedis yang merawat pasien corona.

“Memang kita sedang memikirkan wisma untuk para dokter dan tenaga medis, tetapi jangan terlalu mencemaskan, mereka juga punya keluarga, dan sebagai tenaga kesehatan, mereka juga pasti sudah menerapkan standar jika keluar dari rumah sakit,” tegas Sultan.

Sultan juga mengungkapkan, kalau dirinya bahkan tidak paham dengan keresahan warga tersebut, sebab rumah sakit pun sudah memikirkan keselamatan paramedis tersebut.

Sedangkan soal lokasi karantina bagi pemudik, Sultan menyatakan, lokasi sudah ditentukan oleh Kabupaten/Kota, misalnya menggunakan Asrama Haji sebagai tempat isolasi.

“Dari Mendagri yang terbaru, kelurahan harus menyediakan ruang karantina bagi pendatang/pemudik ini, kami sedang koordiansikan, sedang kami Pemda DIY) menyediakan suplemen bagi mereka yang diisolasi. Agar kondisi fisiknya kuat selama 14 hari,”ujar Sultan.

Karena pemerintah pusat masih membuka peluang untuk mudik, maka daerah hanya bisa melakukan pencegahan dan memfasilitasi proses karantina.

Terpisah, Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY Biwara Yuswantana menjelaskan, Pemda DIY berupaya mempersiapkan kemungkinan terjadinya lonjakan jumlah pasien Covid-19. Selain meningkatkan layanan jemput pasien juga mempersiapkan penambahan ruang isolasi yang didedikasikan untuk merawat pasien kategori berat.

Hal ini juga melibatkan sejumlah pakar dalam meminta masukan terkait penanganan dengan mengedepankan layanan kepada para pasien.

Biwara menambahkan salah satu yang disiapkan adalah penyiapan untuk tim permakaman mulai dari penjemputan jenazah hingga memakamkan dengan protokol Covid-19. Selain itu penjemputan pasien untuk dibawa ke RS rujukan juga telah disiapkan tim melalui sinergi dengan lembaga terkait. Pihaknya akan mengedepankan respons lebih cepat terutama ketika ada laporan dari masyarakat.

"Termasuk untuk keperluan penjemputan jenazah maupun pasien untuk kabupaten dan kota baik dengan PMI, TRC dan instansi terkait secara sinergi. Itu sudah didorong ke kabupaten. Kami mengantisipasi kalau kemudian, terutama penjemputan pasien yang dibawa ke rumah sakit, merespons secara cepat permintaan atau laporan dari masyarakat," katanya.

Pasien Meninggal
Satu lagi pasien positif virus corona di Bantul meninggal dunia. Pasien tersebut merupakan seorang ASN Pemda DIY yang bertugas di salah satu rumah sakit di Bantul.

“Ada laporan dari PKU Muhammadiyah Bantul bahwa pasien terkonfirmasi positif Covid-19 meninggal dunia. Pasien atas nama Th, 53 tahun, laki-laki,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, Senin.

Sebelum dirawat di PKU Bantul, Th sudah menjalani perawatan di Respira sejak 20 Maret lalu, kemudian baru dirujuk ke PKU Muhammadiyah Bantul pada 29 Maret.

Menurut Sri Wahyu, selain meninggal karena Covid, Th juga memiliki riwayat penyakit penyerta, “Penyakit komorbid atau penyakit kronis penyerta adalah diabetes mellitus,” ujar Sri Wahyu.

Sementara itu, berdasarkan laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY, saat ini 125 masih dirawat di RS Rujukan Covid-19, sedang PDP positif Covid-19 di DIY mencapai 37orang, 6 orang sudah dinyatakan sembuh dan 5 orang meninggal.
Sedangkan yang masih dalam proses uji swab mencapai 217 dengan delapan kematian.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih mengatakan hingga saat ini, Orang Dalam Pengawasan (ODP) di DIY mencapai 2.880 orang.

Tambahan kasus positif hari ini, Senin (06/04/2020) dua orang, (kasus-37) laki-laki 60 tahun warga Pemalang Jateng yang memiliki riwayat kontak dengan anaknya di Solo, dan (kasus-38) laki-laki umur 42 tahun warga Kota Yogyakarta.

Dinas Kesehatan Bantul melaporkan kematian akibat terpapar Covid-19 dan penyakit bawaan, dari pasien (kasus-19) laki-laki 53 tahun warga Bantul.

Ditambahkan Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, dr Irene, pihaknya berupaya mempercepat hasil laboratorium, selama 24 jam sebenarnya mampu memeriksa sebanyak 180 sampel Covid-19 jika tidak ada perubahan stok primer (reagen). Tetapi jika ada perubahan jumlah sampel yang ditangani untuk wilayah DIY dan Jawa Tengah tidak sampai di angka 180.

"Jika ada perubahan primer reagen pemeriksaan maka harus dilakukan optimasi ulang dan penyesuaian lagi dalam pemeriksaan sehingga itu akan memperlambat dan mengurangi jumlah hasil yang selesai diperiksa. Seperti misalnya kemarun karena proses optimasi dan penyesuaian kami hanya bisa memeriksa 30-an sampel," katanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com