Gubernur Jabar Arahkan Kabupaten dan Kota Berlakukan Jam Malam

Gubernur Jabar Arahkan Kabupaten dan Kota Berlakukan Jam Malam
Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat Rapid Test COVID-19 di Taman Balai Kota Bandung, Jawa Barat. ( Foto: Antara / Novrian Arbi )
Adi Marsiela / JEM Selasa, 7 April 2020 | 11:17 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menyepakati adanya pemberlakukan jam malam di 27 kabupaten dan kota sebagai antisipasi penyebaran wabah Covid-19. Rencana itu disepakati dalam rapat koordinasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin, 6 April 2020.

Menurut Ridwan, pemberlakuan jam malam untuk meningkatkan penerapan jaga jarak di daerah. Upaya ini dipercaya bisa menekan penyebaran penularan Covid-19. “Tadi sudah disetujui oleh Pak Kapolda, asal berkoordinasi dengan kepolisian di bawah Polda,” terang Ridwan seperti dalam pernyataan tertulisnya.

Lebih lanjut Ridwan menegaskan, pemberlakuan jam malam itu sebagai proses mendisiplinkan warga dan pembatasan sosial berskala besar di Jawa Barat.

Dia juga mengungkapkan, pihaknya belum mengajukan PSBB kepada pemerintah pusat karena menanti data dari kabupaten dan kota. Data yang dimaksud terkait proses pemeriksaan cepat sebaran Covid-19 di kabupaten dan kota. “Kalau datanya tidak lengkap, kita susah melengkapi argumentasi PSBB kepada pemerintah pusat,” ujarnya.

Ridwan mengaku masih masih menunggu laporan hasil tes masif Covid-19 lewat rapid diagnostic test guna melihat peta sebaran dan pola-pola baru yang ada. “Saya imbau kepala daerah untuk mengecek ke Dinkes (Dinas Kesehatan) masing-masing, melaporkan (ke Pemda Provinsi Jabar) secepatnya. Semakin cepat data itu masuk, semakin mudah kita memetakan (Covid-19),” ujar Ridwan.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menyebar 61 ribuan perangkat tes cepat Covid-19 ke 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Dari sebaran perangkat test yang menggunakan sampel darah itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru mendapatkan hasil rapid test dari 15 ribuan orang. “Indikasi positif 677 individu, ini banyak sekali,” kata Ridwan pada Jumat, 3 Maret 2020 lalu.

Sebaran dari 677 individu yang positif Covid-19 itu, Ridwan menambahkan, sebanyak 310-an berada pada Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan Kepolisian Republik Indonesia di Kota Sukabumi. Sementara 226 individu lainnya diperoleh dari tes cepat pada klaster Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang menggelar kegiatan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. “Hari ini pengetesan (rapid) masih terus dilakukan,” imbuh Ridwan.

Temuan dari rapid test ini akan dikonfirmasi ulang dengan pemeriksaan sampel apus tenggorokan hidung menggunakan polymerase chain reaction (CPR). Ridwan tidak merinci berapa banyak ketersedian perangkat untuk tes berbasis CPR yang diperiksa hasilnya di Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat di Bandung.

Selepas pengumuman data sementara tes cepat pada Jumat, 3 April 2020, Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum memaparkan pembaruan data lagi.

Selain itu, Ridwan menyebutkan PSBB di Jawa Barat akan memprioritaskan daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta agar langkah yang diambil bisa disesuaikan dengan Pemda DKI Jakarta.

“Karena apapun yang Jakarta lakukan kita harus satu frekuensi. Dalam satu aglomerasi penyebaran itu harus satu keputusan,” tuturnya.  



Sumber: BeritaSatu.com