UI Kembangkan Ventilator Transport Lokal untuk Pasien Covid-19

UI Kembangkan Ventilator Transport Lokal untuk Pasien Covid-19
Tim Ventilator Universitas Indonesia (UI) mengembangkan Ventilator Transport Lokal Rendah Biaya Berbasis Sistem Pneumatik (COVENT-20). ( Foto: Beritasatu Photo / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / FER Selasa, 7 April 2020 | 20:12 WIB

Depok, Beritasatu.com - Tim Ventilator Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ventilator transport lokal rendah biaya berbasis sistem pneumatik (Covent-20) untuk memenuhi kebutuhan ventilator bagi rumah sakit di Indonesia.

Baca Juga: UI Sediakan Guest House untuk Tenaga Medis RSUI

Tim ini merupakan kolaborasi dari para peneliti di Fakultas Teknik UI (FTUI), Fakultas Kedokteran UI (FKUI), Rumah Sakit UI (RSUI), Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta Jurusan Teknik Elektromedik dan RSUP Persahabatan Jakarta.

Keunggulan Covent-20 adalah biaya produksi yang lebih hemat, compact, portable, hemat energi, serta mudah dioperasikan sehingga aman bagi PDP maupun pasien positif corona atau Covid-19 untuk perjalanan dari rumah atau ruangan observasi ke ruangan isolasi.

Ketua Tim Ventilator UI yang juga merupakan Ketua Program Studi Teknik Biomedik FTUI, Basari mengatakan, saat ini di Indonesia ada sekitar 70-an distributor ventilator yang dapat memasok 231 jenis atau tipe ventilator impor.

"Dengan kondisi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, terjadi keterbatasan stok ventilator impor. Sementara belum ada ventilator lokal produksi asli Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Basari di Depok, Selasa (7/4/2020).

Baca Juga: BCA Sumbang 4 Ventilator ke RSPAD Gatot Subroto

Lebih lanjut diungkapkan Basari, dalam prakteknya ada dua tipe ventilator yaitu ventilator yang digunakan di ruang ICU dengan mode lengkap dan ventilator transport biasanya hanya satu mode dan bisa digunakan dalam kondisi emergency.

Terkait mode ventilasi COVENT-20, Basari mengungkapkan ventilasi multimode yang digunakan pada ventilator ini adalah sistem mode continuous positive airway pressure (CPAP).

"Untuk pasien PDP yang biasanya masih sadar, jadi hanya perlu dibantu diberikan oksigen ke paru-paru, sedangkan mode continuous mandatory ventilation (CMV) digunakan untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala pneumonia berat yang tidak dapat mengatur pernafasannya, sehingga perlu dikontrol dengan mode CMV. Ventilator ini juga dilengkapi positive end expiratory pressure (PEEP)," papar Basari.

"Tim ini fokus pada ventilator transport, karena beberapa hal yakni ketersediaan sparepart lokal lebih banyak, PDP dan pasien positif Covid-19 yang mengalami gagal nafas, membutuhkan ventilator transport untuk perjalanan dari rumah ke rumah sakit, serta mode ventilasi yang dapat diatur," ungkap Dekan FKUI Ari Fahrial Syam.

Baca Juga: Relawan Indonesia Bersatu Serahkan Donasi ke Menteri BUMN

Sementara itu, Dekan FTUI Hendri D  Budiono menuturkan, biaya pembuatan Covent-20 lebih rendah bila dibandingkan dengan tipe ventilator transport komersial yang tersedia saat ini.

"Covent-20 juga memiliki ventilasi multimode, hemat energi dengan baterai lithium-ion, memiliki bentuknya ringkas dan sederhana, pengoperasian yang mudah, serta menggunakan filter bakteri sehingga aman digunakan baik untuk PDP dan maupun pasien positif Covid-19," kata Hendri.



Sumber: BeritaSatu.com