Kadafi: Guru Kreatif Jadi Solusi Pendidikan di Masa Covid-19

Kadafi: Guru Kreatif Jadi Solusi Pendidikan di Masa Covid-19
Muhammad Kadafi ( Foto: Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Rabu, 8 April 2020 | 17:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Berbagai sekolah di daerah menemukan sejumlah kendala dalam proses belajar mengajar secara daring akibat pandemi Covid-19. Untuk itu anggota Komisi X DPR, Muhammad Kadafi mengatakan para guru dan murid harus kreatif menyiasatinya.

“Saya sangat mengapresiasi guru dan murid yang kreatif dalam masa-masa pandemic Covid-19 ini,” kata Kadafi dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Rabu (8/4/2020).

Disebutkan berbagai kendala tersebut disampaikan sejumlah sekolah di daerah kepada Komisi X DPR, dan diminta mencarikan solusinya.

Misalnya Kepala Sekolah SMK Madani Brebes, Mujahidin mengatakan terbatasnya kouta internet terkadang memberatkan orang tua. Begitu juga dengan alat komunikasi yang tak mendukung,” katanya.

Lain lagi yang disampaikan Komite Sekolah SMP Ihsaniyah Tegal, Jawa Tengah, Rofiudin. Ia mengatakan bahwa tidak semua guru menguasai teknologi informasi, dan tidak semua siswa memiliki handphone. “Para orang tua yang tidak melek teknologi juga stress dengan pendidikan online,” kata Rofiudin.

Kepala Sekolah SMAN 1 Slawi, Mimik Supriyatin, mengatakan di antara para guru juga ada yang kurang mampu memenej waktu, karena secara fisik dan mental memang belum siap.

“Selain itu, guru dan siswa yang belajar di rumah juga terlibat dengan kegiatannya di rumahnya, misalnya membersihkan rumah, mengurus keluarga seperti memasak dan lainnya,” katanya.

Melihat hal tersebut Kadafi mengakui kendala yang dialami sejumlah sekolah di daeah memang tak dapat terhindarkan.

“Kondisi kita sedang dalam darurat kesehatan yang berdampak ke sejumlah sektor lainnya. Dibutuhkan kerja sama yang kuat semua pihak dalam mencari solusinya,” kata Kadafi.

Sebagai contoh, kata Kadafi, para guru dan murid yang terbiasa dalam pola belajar mengajar tatap muka mendadak belajar secara online. Sementara, tidak semua daerah memiliki kestabilan jaringan internet sehingga para guru dan murid harus kreatif mencari solusinya.

Sementara di perkotaan yang jaringan internetnya lebih lancar juga tak sepenuhnya nyaman. “Di dunia maya ada pula hacker yang mengintai merusak proses penggunaan aplikasi belajar mengajar. “Jadi seperti saya katakan bahwa kerja sama adalah yang paling penting,” katanya.

Sementara itu Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RP TB Gandhi Hartono SJ, mengatakan fakta pada proses pelaksanaan pembelajaran daring ini adalah guru sulit menjelaskan materi bahan ajar dan siswa pun sulit mengerti yang diberikan oleh guru.

“Maka yang terjadi guru lebih banyak memberi soal latihan (drilling) lewat WhatsApp (WA) atau telpon. Hanya sebagian kecil guru sangat bersemangat, kreatif dan mau belajar (sesama guru), dan berusaha menciptakan pembelajaran online learning yang menarik,” katanya.

Karena itu, para pemangku sekolah itu mengajukan sejumlah solusi. Misalnya, Gandhi Hartono meminta DPR melobi para pemangku jasa provider jaringan seluler untuk membuka jaringan lebih luas ke daerah.

Selain itu, mereka minta aplikasi gratis untuk mendukung proses pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Para guru di daerah juga diberi modul-modul pembelajaran, pelatihan-pelatihan virtual.

Kadafi mengatakan segera berupaya mencari solusi bagi para guru ini. “Namun yang perlu kita sadari bersama, bahwa kondisi ini terjadi memang disebabkan masalah pandemi Covid-19. Jadi memang kita perlu bersama-sama bekerja sama dan bersatu mencari ide-ide kreatif untuk memperkaya proses pendidikan,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com