71 Hotel di Sumut Tutup Sementara karena Dampak Pandemi Covid-19

71 Hotel di Sumut Tutup Sementara karena Dampak Pandemi Covid-19
Ilustrasi hotel. ( Foto: Antara )
Arnold H Sianturi / JEM Kamis, 9 April 2020 | 12:40 WIB

Medan, Beritasatu.com - Sebanyak 71 hotel di Sumatera Utara (Sumut) terpaksa ditutup karena terdampak pandemi Covid-19.Hotel-hotel tersebut antara lain yang terdapat di Kota Medan, Garuda Plaza Hotel, Hotel Danau Toba International Medan, Pardede International Medan, Dprimahotel Medan, Fave Hotel, Wisma Garuda dan Grand Lubuk Raya Hotel, KAMA Hotel Medan dan Raz Hotel and Convention Medan.

Kemudian, Hotel Syariah Grand Jamee Medan, Putra Mulia Hotel, Karibia Boutique Hotel Medan, Grand Impression, Sumatera Hotel, Grand Melati Hotel, Citi Inn Hotel, Hotel Antares, Swiss Bel Inn Surabaya, Jangga House Bed and Breakfast, Hermes Palace Hotel, Grand Kanaya Hotel, Grand Delta Hotel, Hotel Radisson dan Hotel Madani.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut Denny S Wardhana mengatakan, di Kabupaten Samosir juga ada sekitar 32 hotel maupun resort dilaporkaan di sementara.

“Di Kabupaten Simalungun, ada 15 hotel yang sudah ditutup sementara. Hotel lain di luar Kota Medan, Kabupaten Simalungun dan Samosir, juga dipastikan terkena dampak Covid-19,” kata Denny kepada Beritasatu.com, Kamis (9/4/2020).

Denny mengatakan, industri pariwisata di Sumatera Utara sudah mengalami mati suri, tidak lagi bersinar akibat pandemi virus corona (Covid-19). Tingkat hunian hotel pun di bawah lima persen. Kondisi ini membuat pemiliknya menghentikan kegiatan operasional. Ada 71 hotel maupun resort yang ditutup sementara.

"Ada hotel yang memiliki 300 kamar namun yang terisi hanya sekitar 2-3 kamar setiap harinya. Ini yang membuat pengusaha hotel menutup sementara usahanya untuk mengurangi kerugian lebih besar. Ini sudah mati suri," ujar Denny.

Denny mengungkapkan, jumlah kamar hotel di daerah itu ada sekitar 20.000 kamar. Berdasarkan jumlah itu, sekitar 10.000 kamar ada di Medan. Sementara itu, jumlah tenaga kerja di hotel mencapai 20.000 orang. Sebagian karyawan hotel itu terpaksa dirumahkan sampai keadaan pulih.

"Potensi kehilangan pendapatan perhotelan akibat pandemi Covid-19 ini sedikitnya Rp 100 miliar setiap bulannya. Kami berharap, pekerja yang dirumahkan itu juga mendapatkan perhatian dari pemerintah karena sudah kehilangan pendapatan. Hotel ditutup sementara karena corona," katanya.

Denny mengungkapkan, industri pariwisata masih menunggu realisasi yang dijanjikan pemerintah dalam hal insentif. Bantuan pemerintah sangat diharapkan untuk membangkitkan industri pariwisata dari keterpurukan pandemi corona tersebut. Janji itu diharapkan segera direalisasikan.

”Kami sudah mengajukan permohonan kepada pemerintah dengan melayangkan surat akibat pandemi corona ini. Selain itu, kita juga mengirim surat ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, PT Perusahaan Listrik Negara, dan PT Perusahaan Gas Negara agar ada relaksasi, penundaan, dan penghapusan tagihan,” sebutnya.



Sumber: BeritaSatu.com