Misa Kamis Putih

Uskup Agung Jakarta: Jalan Menuju Kesempurnaan Hidup Adalah Jalan Peduli

Uskup Agung Jakarta: Jalan Menuju Kesempurnaan Hidup Adalah Jalan Peduli
Mrg Ignatius Suharyo memimpin misa Kamis Putih yang disiarkan langsung "TVRI", Kamis 9 April 2020. ( Foto: B1/Anselmus Bata )
Anselmus Bata / AB Kamis, 9 April 2020 | 23:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jalan menuju kesempurnaan hidup sebagai manusia adalah jalan peduli. Kepedulian berujung pada kerelaan berbagi kehidupan dalam berbagai macam bentuk, seperti Yesus yang rela wafat di kayu salib demi keselamatan manusia. 

Hal tersebut disampaikan Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo saat memberikan homili pada misa Kamis Putih yang disiarkan langsung TVRI, Kamis (9/4/2020) malam. 

Tidak seperti biasa, pada misa Kamis Putih kali ini, tidak ada upacara pembasuhan kaki. "Pesan tersembunyi bahwa upacara bukanlah yang paling penting. Yang paling penting adalah melaksanakan pesan yang dipesankan oleh upacara itu, yakni melakukan apa yang dilakukan Yesus, yakni mengasihi sampai akhir dan mengasihi sehabis-habisnya," ujar monsinyur Suharyo. 

Mengawali homili, monsinyur Suharyo bercerita tentang sebuah relief di Candi Borobudur. Relief itu menggambarkan seseorang yang berdiri dan agak boingkok, serta di depannya ada empat ekor binatang, yakni kera yang membawa pisang, berang-berang membawa ikan, serigala dengan mangkok berisi susu, dan kelinci yang tidak membawa apa pun. 

Di balik relief itu ada kisah tentang seseorang yang ingin mencapai kesempurnaan hidup. Dalam pencariannya, dia berubah menjadi kelinci. Saat mengembara, dia bertemu dengan ketiga binatang tersebut. Keempat binatang itu kemudian bertemu seorang pengembara yang tampak lelah, letih, dan lesu.

Keempat binatang itu pun masing-masing berkata kepada pengembara. Kera yang membawa pisang berkata,"Bapak tampak lelah. Ini saya membawa pisang. Makanlah."

Berang-berang mengatakan hal yang sama dan memberikan ikan kepada pengembara. Serigala pun memberi mangkok berisi susu sambil berkata,"Silakan Bapak minum dan Bapak akan kuat untuk melanjutkan perjalanan."

Kelinci yang tak membawa bekal apa pun berkata,"Bapak saya tidak membawa apa-apa. Oleh karena itu, tangkaplah saya, sembelihlah saya, masaklah saya, dan makanlah saya."

Pesan dari kisah tersebut adalah jalan menuju kesempurnaan hidup sebagai manusia adalah jalan peduli. Keempat binatang itu berhenti dan menunjukkan kepedulian kepada pengembara yang berujung pada kerelaan berbagi kehidupan dalam berbagai macam bentuk.

"Itu dongeng. Namun, umat Katolik memiliki Yesus Kristus yang bukan dongeng. Yesus memberikan hidupnya untuk keselamatan manusia," ujar monsinyur Suharyo.

Dalam kehidupannya, Yesus bertemu banyak orang yang lelah dan berkata,"Marilah kepadaku semua yang lelah, letih, lesu, dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Belas kasih Yesus, lanjutnya, tidak tanggung-tanggung. Yesus mencurahkan kasih sampai sehabis-habisnya dengan rela wafat di kayu salib untuk keselamatan manusia.

"Pada saat ini, masih ada orang yang lelah karena hari demi hari harus berjuang untuk bertahan hidup; lelah karena selalu dikalahkan di dalam usaha untuk menerima keadilan; lelah karena harus menghadapi wabah corona dengan akibatnya yang sangat luas; lelah karena tampaknya kejahatan lebih kuat daripada kebaikan, kebohongan tampaknya lebih berkuasa daripada kebenaran," katanya. 

Untuk itu, monsinyur Suharyo berdoa agar umat Katolik dianugerahkan hati yang berbelas kasih, seperti hati Yesus yang selalu tergerak oleh belas kasihan.



Sumber: BeritaSatu.com