Peneliti: Arus Balik Berpotensi Jadi Gelombang Kedua Covid-19 di Jakarta

Peneliti: Arus Balik Berpotensi Jadi Gelombang Kedua Covid-19 di Jakarta
Kendaraan pemudik terjebak macet di Gerbang Tol Cikampek Utama, Jawa Barat, Minggu (9/6/2019). Pada puncak arus balik lebaran 2019, sejumlah titik di Tol Jakarta-Cikampek mengalami kepadatan volume kendaraan pemudik yang ingin kembali ke Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO / Agus)
/ YUD Selasa, 14 April 2020 | 19:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Arus balik dapat berpotensi menciptakan gelombang kedua penularan virus corona (Covid-19) di DKI Jakarta, jika tidak ada intervensi dari pemerintah. Hal tersebut dikemukakan oleh peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Chotib Hasan, Selasa (14/4/2020).

"Perlu kewaspadaan yang tinggi terhadap potensi terjadinya gelombang kedua penularan Covid-19 di DKI Jakarta karena arus balik," kata Chotib Hasan dalam konferensi video, Jakarta, Selasa (14/4/2020).

Chotib menuturkan arus balik memberikan dampak potensi keterpaparan Covid-19 yang lebih besar lagi karena adanya pendatang baru yang dibawa serta oleh pemudik.

Baca juga: Jutaan Orang Berpotensi Menganggur dan Jatuh Miskin Akibat Covid-19

"Hal yang patut diwaspadai adalah fenomena arus balik pasca Lebaran yang biasanya jumlahnya lebih besar daripada pemudik," ujarnya.

Jika tanpa intervensi akan ada 1.059 orang dalam pemantauan (ODP) dari mereka yang balik ke Jakarta. Sementara jika ada intervensi, maka tambahan ODP menjadi lebih sedikit yakni sekitar 205 ODP pada arus balik ke Jakarta.

Baca juga: Kadin: Hadapi Covid-19, BI Disarankan Cetak Uang, Pemerintah Ngutang

Pada saat pasca lebaran, pemerintah daerah tujuan mudik diharapkan dapat menahan agar pemudik tidak balik, di antaranya dengan pembiayaan jaring pengaman sosial agar pemudik tetap tinggal di daerah kelahirannya dan dengan penguatan modal sosial di tingkat desa, RT/RW dalam mengatasi persoalan ekonomi masyarakat.

Intervensi itu juga dapat berupa pelarangan orang melakukan mudik di daerah asal mudik dan penutupan lokasi di daerah tujuan mudik.

Baca juga: DKI Jakarta Anggarkan Rp 10,6 Triliun untuk Tangani Covid-19

Menurut Chotib, pemikiran bahwa melakukan mudik dengan motivasi menghindari Covid-19 karena menganggap pedesaan tempat yang aman dari Covid-19, adalah sesat.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, potensi keterpaparan (Covid-19) sangat tinggi baik di titik keberangkatan selama perjalanan maupun di daerah tujuan mudik.

Potensi keterpaparan Covid-19 juga tinggi jika ada mobilitas penduduk tinggi.

Covid-19 dapat ditularkan baik orang tanpa gejala maupun dengan gejala sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan, dan langkah pencegahan penularan harus tetap dilakukan seperti menjaga jarak aman sosial.

"Sosialisasi diam di rumah tetap terus digalakkan sambil juga menggalakkan tidak menerima kunjungan," ujarnya.



Sumber: ANTARA