Mudik Sebabkan Kurva Penularan Covid-19 Kian Melebar

Mudik Sebabkan Kurva Penularan Covid-19 Kian Melebar
Ganjar saat meninjau gedung olahraga untuk tempat isolasi pemudik, di Desa Ngrapah, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (4/4/2020). (Foto: beritasatu.com / Stefi Tenu)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 14 April 2020 | 19:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitan Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditemukan bahwa sebagian besar masyarakat masih tetap nekad mudik meski berisiko menularkan penyakit Covid-19 ke sanak saudara di kampung halamannya. Padahal pemerintah sudah menggaungkan kampanye jangan mudik, meski pembatasannya masih berupa imbauan untuk mereka yang tinggal di luar zona merah yakni Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia yang juga Ketua Bidang Mobilitas dan Sebaran Penduduk Ikatan Praktisi Ahli Demografi Indonesia (IPADI), Chotib Hasan mengungkapkan, pergerakan keluar wilayah DKI Jakarta bagi pemudik dikhawatirkan akan menyebabkan penyebaran Covid-19 yang lebih masif ke daerah tujuan. Sebab, DKI Jakarta merupakan episentrum atau zona merah.

"Kalau terjadi mudik, pelandaian kurva penularan Covid-19 tidak terjadi, puncak penularan pun akan semakin melebar," katanya dalam web seminar bertajuk Dilema Pandemi Corona: Mudik atau Tidak? di Jakarta, Selasa (14/4/2020).

Di daerah tujuan pun, penularan tetap bisa terjadi pada orang rentan seperti orang tua. Di moda transportasi ke daerah tujuan pun terdapat kerawanan penularan tinggi.

Selain itu, di kampung halaman, pemudik rata-rata menghabiskan waktu minimal tujuh hari. Pada masa itu tentu mereka tidak hanya di rumah, melainkan berpergian ke berbagai tempat.

Bisa dibayangkan jika yang datang adalah pemudik positif Covid-19 tanpa gejala atau orang tanpa gejala. Tentu hal ini membuat penyebaran semakin masif.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Agus Wibowo memperkirakan mudik kemungkinan besar terjadi walau dihalangi.

Pemerintah pusat sudah mengeluarkan larangan mudik untuk ASN, TNI/Polri. Lalu bagi masyarakat yang sudah terlanjur di kampung halaman akan diberdayakan untuk produktif menghasilkan pangan. Sebab dari perkiraan Badan Kesehatan Dunia sesudah Covid-19, krisis pangan akan terjadi.

"Saat ini juga sudah ada kebijakan PSBB, kebijakan ini akan mempengaruhi dan membuat orang berpikir dua kali untuk mudik. Pemerintah pun sudah mengganti hari libur di hari raya nanti," ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com