Fatwa MUI: Zakat Boleh untuk Tangani Covid-19

Fatwa MUI: Zakat Boleh untuk Tangani Covid-19
Bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terkait Covid-19 (Foto: ist)
Maria Fatima Bona / IDS Jumat, 24 April 2020 | 17:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh mengatakan, Komisi Fatwa MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya. Dengan fatwa tersebut, Komisi Fatwa MUI melakukan ijtihad dan menetapkan agar zakat, infak, dan sedekah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan wabah Covid-19.

Asrorum menyebutkan, fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

"Termasuk masalah kelangkaan APD (alat pelindung diri, Red), masker, dan kebutuhan pokok masyarakat terdampak," kata Asrorun dalam siaran pers yang diterima Beritasatu, Jumat (24/4/2020).

Dalam Fatwa MUI tersebut disebutkan beberapa hal.

Pertama, pemanfaatan harta zakat untuk penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya serta hukumnya boleh dengan dhawabith (ketentuan) seperti pendistribusian harta zakat kepada mustahik atau orang yang berhak menerima zakat secara langsung. Ketentuannya adalah, penerima termasuk salah satu golongan asnaf zakat, yaitu muslim yang fakir, miskin, amil, mualaf, terlilit utang, riqab, ibnu sabil, dan/atau sabilillah.

Kemudian, harta zakat yang didistribusikan boleh dalam bentuk uang tunai, makanan pokok, keperluan pengobatan, modal kerja, dan yang sesuai dengan kebutuhan mustahik. Lalu, pemanfaatan harta zakat boleh bersifat produktif antara lain untuk stimulasi kegiatan sosial ekonomi fakir miskin yang terdampak wabah.

Pendistribusian untuk kepentingan kemaslahatan umum, ketentuannya adalah penerima manfaat termasuk golongan asnaf fi sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah) dan pemanfaatan dalam bentuk aset kelolaan atau layanan bagi kemaslahatan umum, khususnya kemaslahatan mustahik. Misalnya, penyediaan APD, disinfektan, dan pengobatan serta kebutuhan relawan yang bertugas melakukan aktivitas kemanusiaan dalam penanggungan wabah.

Kedua, zakat mal boleh ditunaikan dan disalurkan lebih cepat atau ta‘jil al-zakah tanpa harus menunggu satu tahun penuh haul, apabila telah mencapai nishab.

Ketiga, zakat fitrah boleh ditunaikan dan disalurkan sejak awal Ramadan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri.

Keempat, kebutuhan penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya yang tidak dapat dipenuhi melalui harta zakat, dapat diperoleh melalui infak, sedekah, dan sumbangan halal lainnya.



Sumber: BeritaSatu.com