Kontak Dekat dengan Jamaah Tabligh Jakarta, Satu Keluarga di Bantul Reaktif Covid-19

Kontak Dekat dengan Jamaah Tabligh Jakarta, Satu Keluarga di Bantul Reaktif Covid-19
Ilustrasi tes cepat Covid-19. (Foto: Antara)
Fuska Sani Evani / JAS Kamis, 30 April 2020 | 19:00 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Satu keluarga di Piyungan Bantul yang terdiri dari delapan orang, menunjukkan reaktif terhadap rapid test Covid-19, setelah seorang kerabat mereka terpapar corona usai mengikuti tablig akbar di Jakarta pada Maret silam.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santosa membenarkan hasil rapid test tersebut dan menyebutkan, delapan orang itu, enam di antaranya masih anak-anak.

“Yang dewasa hanya dua orang, umur 40 dan 19 tahun. Lainnya masih anak-anak, dua balita berusia 4 dan 2 tahun,” ungkapnya, Kamis (20/04/2020).

Menurutnya, kedelapan orang itu berkontak langsung dengan anggota keluarga lainnya, yang masuk dalam klaster Jamaah Tabligh Jakarta, atau kontak dekat dengan peserta tablig, yang sebenarnya negatif rapid test, tetapi anggota keluarga lainnya yang reaktif.

Selanjutnya, kedelapan sanak saudara tersebut langsung dirujuk ke RSUD (Panembahan Senopati) untuk diisolasi dan menjalni tes swab. Jika ada yang menunjukkan status positif, maka tetap harus dirawat.

"Untuk memastikan, tunggu tes swab, hasil rapid test reaktif, namun belum tentu positif," tegasnya.

Dikatakan, kasus reaktif rapid test ini juga berhubungan dengan kasus keluarga di Banguntapan, yang juga tertular Covid-19 dari kepala keluarga, yang diketahui juga , yang merupakan peserta tabligh akbar, di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta, Maret lalu.

Bahkan, menurut Sri Wahyu Joko Santosa relasi penularannya tidak sebatas warga Bantul, tetapi juga warga Sleman, serta Gunungkidul.

Diduga Terpapar Jemaah Pengajian Lain

Sementara dari Sleman dilaporkan, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan terkonfirmasi positif pada Rabu (29/4/2020), Kasus 96 merupakan laki-laki, usia 73 tahun, warga Sleman terpapar virus, setelah kontak dengan warga Gamping yang positif Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan, berdasarkan hasil tracking Puskesmas, warga Mlati itu diduga terpapar virus Covid-19 karena kontak dengan warga Gamping yang dimaksud merupakan Kasus 35 seorang laki-laki berusia 60 tahun yang telah meninggal awal April lalu dan pernah melakukan perjalanan mengikuti pengajian di Jakarta.

Setelah itu, Dinkes Sleman melakuan tracking terhadap warga yang melakukan kontak dengan Kasus 35. "Untuk Kasus 96 ini hasil tracking berbeda dengan yang pertama kali dilakukan kepada warga. Ini sudah beda lagi, baru belakangan terlacak," kata Joko.

Dugaan lainnya, lanjut Joko, Kasus 96 bisa juga terpapar oleh pasien Covid-19 lainnya, yakni kasus 80. Kasus 80 berjenis kelamin laki-laki berusia 60 tahun asal Gamping sementara Kasus 85 berjenis kelamin perempuan berusia 55 tahun. Keduanya memiliki alamat yang sama dan diketahui sebagai suami-istri.

“Kami masih akan mendalami Kasus 96. Sementara hasil tracking-nya seperti itu," ujar Joko.

Terpisah, Juru Bicara Penanganan Covid-19 DIY Berty Murtiningsih menyebutkan, hasil pemeriksaan laboratorium pada Kamis (30/04/2020), terkonfirmasi satu kasus positif, yakni kasus -97, laki-laki 76 tahun warga Bantul. “Dengan demikian kasus positif Covid-19 di DIY mencapai 95 orang per hari ini,” ujarnya.

Sedang kasus positif yang dinyatakan sembuh pada hari ini mencapai tiga orang, yakni Kasus-32 laki-laki umur 48 warga Sleman, Kasus-48, laki-laki 69 tahun warga Sleman dan kasus-56, perempuan 45 tahun warga Kota Yogya. “Kesembuhan di DIY total mencapai 43 orang,” ujarnya.

Sementara itu diketahui, total PDP di DIY mencapai 837 orang dan sebanyak 134 orang masih dalam perawatan. Kasus negatif atau yang sudah melaksanakan uji swab namun negatif, mencapai 679 orang, masih dalam proses uji lab mencapai 63 orang dan di antaranya tiga orang meninggal dunia. Sedang orang dalam pemantauan (ODP) di DIY mencapai 4.750 orang.



Sumber: BeritaSatu.com