Masyarakat Diminta Dukung Tenaga Medis Covid-19

Masyarakat Diminta Dukung Tenaga Medis Covid-19
Alat Pelindung Diri (APD) bantuan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 telah digunakan oleh tenaga medis di RS Bhayangkara Medan, Sumatera Utara. (Foto: Istimewa)
Carlos KY Paath / FER Jumat, 1 Mei 2020 | 20:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah berharap masyarakat menghentikan stigmatisasi terhadap tenaga medis yang menangani pasien Covid-19. Sebab, tenaga medis tak hanya sangat berjasa bagi bangsa dan negara atas dedikasi merawat dan menyembuhkan pasien Covid-19, tapi juga layak disebut pahlawan.

Baca: Perangi Covid-19, BPF Bantu Tenaga Medis di 5 RS

"Peran para tenaga medis seharusnya dihormati dan diapresiasi setinggi-tingginya karena dalam kondisi seperti ini, mereka ikut mempertaruhkan nyawa saat berada di garda terdepan. Masyarakat hendaknya memberikan dukungan dengan menunjukkan rasa empati dan simpati, bukan malah mengucilkan dan mengusir mereka," kata Basarah dalam keterangan persnya, Jumat (1/5/2020).

Basarah mengaku prihatin melihat sejumlah besar penolakan warga di berbagai daerah terhadap tenaga medis, khususnya tenaga perawat, untuk tinggal di tengah masyarakat. Misalnya yang terjadi atas tiga perawat RSUD Bung Karno Solo, Jawa Tengah (Jateng). Ketiganya diusir oleh induk semang dari tempat mengontrak rumah di kawasan Grogol, Sukoharjo.
Peristiwa serupa juga terjadi Malang, Jakarta, Palembang, Gorontalo, Yogyakarta, dan Bandung.

"Para perawat itu pasti melaksanakan tugas mereka dengan protokol kesehatan yang ketat, mulai mengenakan alat perlindungan diri secara maksimal dan berdisiplin. Mereka juga tak mau terpapar Covid-19. Jadi mari gunakan hati nurani kita dengan baik, perlakukan mereka layaknya pahlawan," tegas Basarah.

Baca: Kabupaten Bogor Kekurangan Tenaga Medis

Menurut Basarah, penolakan terhadap para tenaga medis terjadi karena dua sebab. Pertama, masyarakat kurang paham terkait penularan virus. Kedua, informasi mengenai Covid-19 lebih banyak diisi dari sisi negatif, sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan di tengah masyarakat.

"Akibat kombinasi dua faktor itu, muncul proses stigmatisasi bukan saja terhadap penderita Covid-19 tapi juga terhadap mereka yang berada di garis depan merawat dan menyembuhkan para pasien Covid-19 itu," tutur Ketua Fraksi PDIP MPR tersebut.

Basarah meminta pemerintah, relawan, media massa, serta pihak-pihak terkait untuk lebih banyak mengedukasi publik dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik. Secara khusus terkait penularan dan pencegahan Covid 19, dan tentang peran dan sumbangsih para tenaga medis.

Baca: Jateng Wajibkan Seluruh Tenaga Medis Pakai APD

Edukasi dapat dilakukan lewat dialog di media televisi dan radio, iklan di media cetak, pamphlet dan brosur. Basarah menambahkan ada banyak cara yang intinya melarang stigmatisasi terhadap para pasien dan tenaga medis Covid-19.

"Kita adalah bangsa agamis. Agama-agama yang kita anut semuanya mengajarkan kebaikan. Mengusir para perawat itu melawan hati nurani, bukan kebaikan. Seharusnya bukan perawat yang diusir dan dijauhi, tapi bagaimana kita bergotong-royong mengusir virus dari bumi Indonesia," ujar sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu.

Basarah menyarankan agar pemerintah sambil melakukan edukasi juga menyiapkan rumah singgah bagi tenaga medis untuk sementara waktu. Misalnya seperti yang dilakukan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) yang mengalihfungsikan bangunan di Gedung Wisma Tamu Puspiptek menjadi rumah singgah bagi tenaga kesehatan di Tangerang Selatan, Banten.



Sumber: BeritaSatu.com