Mencetak Generasi Unggul dengan Kampus Merdeka

Mencetak Generasi Unggul dengan Kampus Merdeka
Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Nizam. ( Foto: Istimewa )
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 2 Mei 2020 | 13:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di awal tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meluncurkan kebijakan Kampus Merdeka untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi sebagai generasi unggul yang kreatif dan inovatif.

Baca: Hardiknas Jadi Momentum untuk Realisasikan Kampus Merdeka

"Ini tahap awal agar lebih mudah bergerak untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran. Melalui program Kampus Merdeka yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, hard dan soft skills mahasiswa akan terbentuk dengan kuat," ujar Mendikbud Nadiem saat peluncuran program Kampus Merdeka.

Baca: Kampus Merdeka, Konsep Pendidikan Tinggi Mendikbud Nadiem

Secara ringkas, Kampus Merdeka memiliki empat kebijakan utama.

Pertama, mekanisme kemudahan pembukaan program studi baru. Kedua, perubahan mekanisme sistem akreditasi perguruan tinggi. Ketiga, mekanisme perguruan tinggi negeri menjadi PTN berbadan hukum. Keempat, hak belajar tiga semester di luar program studi.

Tiga semester yang dimaksud berupa satu semester (atau setara dengan 20 SKS) untuk mengambil mata kuliah di luar program studi dan dua semester (atau setara dengan 40 SKS) untuk aktivitas pembelajaran di luar perguruan tinggi.

Kegiatan di luar perguruan tinggi ini dapat berupa magang atau praktik kerja, pertukaran pelajar, penelitian hingga pengabdian masyarakat. Selain itu, mahasiswa dapat mengikuti asistensi mengajar di satuan pendidikan, serta kuliah kerja nyata tematik (KKNT).

Secara terpisah, Plt. Dirjen Dikti Kemdikbud Nizam mengatakan pengambilan tiga semester di luar prodi ini telah memiliki payung hukum yakni Permendikbud No 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Pada akhir bulan April lalu, Dikti Kemdikbud juga telah menerbitkan buku panduan Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.

Keduanya dapat dijadikan sebagai dasar pemberian hak kepada mahasiswa untuk belajar secara optimal.

"Dengan demikian, terbuka kesempatan luas bagi mahasiswa untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan serta kompetensinya di dunia nyata sesuai dengan passion dan cita-citanya," ujar Nizam di Jakarta, Sabtu (2/5/2020).

Dirinya menambahkan, pembelajaran dapat terjadi dimanapun. Meraih ilmu pengetahuan tak hanya terbatas di ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium. Melainkan, dapat juga terjadi di desa, industri, tempat kerja, pusat riset maupun di masyarakat.

“Melalui interaksi yang erat antara perguruan tinggi dengan dunia kerja maupun dunia nyata, perguruan tinggi akan hadir sebagai mata air bagi kemajuan dan pembangunan bangsa, turut mewarnai budaya dan peradaban bangsa secara langsung,” pungkas Nizam.

Lebih lanjut, interaksi langsung dengan dunia nyata ini diharapkan dapat mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman seperti tuntutan dunia kerja, perkembangan teknologi yang pesat, serta perubahan dinamika sosial dan budaya.



Sumber: BeritaSatu.com