Catatan Hardiknas, Andreas Pareira: Pendidikan Kunci Cerdaskan Kehidupan Bangsa

Catatan Hardiknas, Andreas Pareira: Pendidikan Kunci Cerdaskan Kehidupan Bangsa
Andreas Hugo Pareira ( Foto: Antara/Reno Esnir )
Rully Satriadi / RSAT Sabtu, 2 Mei 2020 | 20:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota DPR dari Fraksi PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan pendidikan adalah kunci untuk menciptakan bangsa yang cerdas. Pendidikan adalah instrumen untuk melahirkan bangsa yang cerdas.

"Tidak ada bangsa yang maju, yang pendidikannya tidak maju. Suatu bangsa akan maju, kalau pendidikan dan SDM-nya terdidik,” ujar Andreas dalam keterangan tertulis di Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2020).

Andreas mengatakan merujuk pada cita-cita dasar yang menjadi tujuan didirikannya negara Indonesia, salah satunya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, sejak awal lahirnya bangsa Indonesia, founding fathers sadar betul bahwa pendidikan adalah kata kunci untuk mengisi tujuan hidup bangsa yang merdeka.

Selain itu menurut Andreas pendidikan juga merupakan instrumen utama untuk menciptakan keadilan sosial. Perubahan strata sosial individu, masyarakat bahkan bangsa hanya mungkin terjadi kalau memperoleh akses pendidikan yang sama dan merata.

“Untuk melahirkan pendidikan yang mencerdaskan, pendidikan yang melahirkan keadilan sosial tentu harus didukung oleh sistem pendidikan yang dibangun, yang terdiri dari komponen-komponen utama, yaitu pilihan metode pendidikan yang tepat, guru atau pendidik, dan sarana penunjang pendidikan,” ujar Andreas yang juga anggota Komisi X DPR ini. .

Anggota yang membawahi bidang pendidikan ini menjelaskan, sejalan dengan prioritas pemerintahan Jokowi yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas, bangsa ini akan masuk ke dalam suatu era baru dalam sistem pendidikan nasional yang oleh mendikbud Nadiem Makarim disebut "Merdeka Belajar".

Inti dari merdeka belajar tentu pada ruang terbuka yang disiapkan untuk guru dan murid agar menguasai komptensi-kompetensi dasar keilmuan di bidangnya masing-masing, untuk selanjutnya berinovasi, berkreasi, dan berimprovasi dalam proses pendidikan untuk melahirkan talenta-talenta kecerdasan yang mampu menjawab persoalan dan tantangan kehidupan bangsa.

Persoalannya, bisakah kita menerapkan konsep merdeka belajar ini untuk Indomesia setelah sekian lama anak bangsa ini dididik dengan sistem pendidikan indoktrinatif melalui beban kurikulum yang menumpuk yang ditentukan dari atas.

Jawabnya harus bisa! Tentu dengan syarat. Pertama, konsep merdeka belajar ini harus menjadi metode pendidikan yang dibakukan dalam sistem pendidikan nasional.

Kedua, guru harus dipersiapkan dan memahami konsep merdeka belajar ini, sehingga mampu menerapkan pada murid-muridnya.

Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang memunjang konsep merdeka belajar. Keempat, karena kita bicara pendidikan untuk Indonesia sebagai instrumen mencerdaskan bangsa, sekaligus instrumen keadilan sosial, maka harus ada kesempatan dan akses yang sama bagi semua anak bangsa Indonesia.

Namun sayangnya realita saat ini memang memprihatinkan. Bangsa ini baru memulai membenahi aspek pendidikan yang multikompleks, tapi sudah dihadapi dengan masalah pandemi Covid-19 yang imbasnya sangat terasa pada bidang pendidikan.

Semua stakeholder pendidikan saat ini, baik birokrasi pendidikan, guru maupun siswa dipaksa harus bermigrasi dari pola pendidikan reguler tatap muka menjadi pendidikan jarak jauh (PJJ) dengan menggunakan IT.

Pada aspek ini  menurut Andreas terasa sekali ketimpangan, kesiapan dan ketidaksiapan, antara mereka yang punya dan mereka yang tidak punya, antara mereka yang terbiasa dengan perangkat IT dan mereka yang belum terbiasa, antara mereka yang hidup di daerah “merdeka signal” dan mereka yang hidup di daerah “sulit signal”.

Dari peristiwa pandemi Covid19 ini dan imbasnya pada bidang pendidikan, kalau mau jujur harus dikatakan bahwa kita tidak siap. Tapi persoalannya bukan siap atau tidak siap, karena memang tidak ada pilihan lain.

Sehingga siap tidak siap harus dijalankan, dengan segala kekurangan, keterbatasan dan ketimpangan sosial, ekonomi, ge-teknologi maupun pengusaan IT.

“Semoga peristiwa pandemi covid 19 menjadi “guru” bagi kita semua untuk lebih bertekad membenahi sistem pendidikan kita menuju alam “merdeka belajar yang hakiki, yang mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selamat Hardiknas, 2 Mei 2020,” pungkas Andreas.



Sumber: BeritaSatu.com