Riset Eksplorasi 18 Wilayah: Efek PSBB Belum Maksimal

Riset Eksplorasi 18 Wilayah: Efek PSBB Belum Maksimal
Ilustrasi penanganan pasien terinfeksi "corona". (Foto: Antara)
Yuliantino Situmorang / YS Sabtu, 9 Mei 2020 | 17:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Efek Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah diterapkan dalam 18 wilayah Indonesia ternyata belum maksimal. Secara umum, belum terjadi efek kategori A atau kategori sangat bagus. Efek kategori ini adalah, secara grafik menunjukkan penurunan sangat drastis kasus baru.

“Seluruh komponen masyarakat dan pemerintah daerah harus lebih maksimal menerapkan PSBB. Jika tidak, situasi ini akan memperpanjang masa pemulihan di Indonesia. Ini sekaligus berarti memperburuk ekonomi Indonesia dengan seluruh konsekuensinya,” demikian hasil riset LSI Denny JA seperti dirilis secara virtual Sabtu (9/5/2020).

Riset dilakukan dengan mengelola data sekunder, dalam rentang awal Maret hingga 6 Mei 2020. Tiga sumber data yang digunakan, data Gugus Tugas, data Worldometer, dan WHO.

Disebutkan, masyarakat Indonesia diberi semangat oleh contoh sukses di dunia. Efek kategori A atau efek istimewa, terjadi setidaknya pada empat negara: Korea Selatan, Jerman, Australia, dan Selandia Baru. Dari grafik rentang 1-2 bulan, pada empat negara itu terlihat puncak pandemik sudah terlewati. Kasus baru menurun drastis.

LSI Denny JA menganalisa menyusun efek PSBB dalam empat kategori. Kategori ini dibedakan dengan melihat kasus baru harian antara sebelum dan sesudah diterapkannya PSBB.

Pertama, tipologi A, kategori Istimewa. Wilayah yang masuk dalam tipologi ini adalah wilayah yang penambahan jumlah kasus baru pasca PSBB menurun secara drastis. Menurunnya kasus baru harian sangat tajam.

Kedua, tipologi B atau kategori baik. Wilayah yang masuk tipologi ini adalah wilayah yang penambahan kasus barunya menurun secara gradual/konsisten, namun tidak drastis pascapenerapan PSBB.

Ketiga, tipologi C atau kategori cukup. Wilayah yang masuk tipologi ini adalah wilayah yang penambahan kasusnya cenderung turun, namun belum konsisten. Masih terjadi kenaikan di waktu-waktu tertentu.

Keempat, tipologi D atau kategori kurang. Wilayah yang masuk tipologi ini adalah wilayah yang jumlah penambahan kasus barunya tidak mengalami perubahan seperti masa pra PSBB. Dan bahkan cenderung mengalami kenaikan di sejumlah waktu tertentu.

LSI Denny JA menyebutkan, pihaknya hanya memperoleh data dari 18 wilayah. Dari data di 18 wilayah iu, LSI mengamati grafik PSBB, ternyata belum ada satupun wilayah yang saat ini menerapkan PSBB masuk tipologi A atau Istimewa. Seperti grafik penambahan kasus di empat negara yaitu, Jerman, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Australia, yang mengalami penurunan drastis, di Indonesia tidak ada satupun wilayah yang datanya menunjukan penurunan kasus secara drastis.

Dalam tipologi B atau Baik, dari data yang diolah dan dianalisis LSI Denny JA, menunjukan bahwa ada empat wilayah yang masuk tipologi ini. Empat wilayah tersebut adalah Provinsi DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung Barat.

Dalam tipologi C atau cukup, ada lima wilayah yang masuk tipologi ini yaitu Kota bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kota Tanggerang Selatan, dan Kabupaten Tanggerang.

Dalam tipologi D atau Kurang, ada sembilan wilayah yaitu Provinsi Sumatera Barat, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Cimahi, Kota Pekanbaru, Kota Surabaya, Kota Banjarmasin dan Kota Tanggerang.

Penyebab
LSI Denny JA menyebutkan penyebab efek PSBB di 18 wilayah belum maksimal. Disebutkan, PSBB diterapkan pada empat kegiatan, kegiatan agama, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial budaya, dan kegiatan transportasi umum.

“Dari empat kegiatan itu, terjadi banyak pelanggaran di 18 wilayah itu, dalam derajat berbeda, terutama pada kegiatan agama dan kegiatan di tempat umum,” demikian LSI Denny JA.

Disebutkan, kegiatan tarawih keagamaan terjadi di banyak masjid. Juga kegiatan di tempat umum berupa berdesak-desaknya ibu rumah tangga belanja di pasar/pertokoaan, dan anak muda berkumpul di kafe/resto setelah buka puasa. Warga berkumpul tanpa memperhatikan jarak sosial.

Sangat terasa kurang kerasnya komponen masyarakat dan pemerintah daerah menerapkan PSBB. Ulama bisa berperan lebih instensif dalam mengajak warga ibadah di rumah saja, terutama saat tarawih.

Pengusaha kurang menerapkan jarak antar pembeli ketika mereka antre di pasar/toko. Kepala rumah tangga kurang menjaga anak mudanya untuk tidak dulu berkumpul di area umum, terutama setelah berbuka puasa.

Pemerintah daerah juga kurang mengawasi pelaksanaan PSBB itu. Sementara kesadaran masyarakat banyak yang belum tumbuh akan pentingnya jarak sosial dan aneka protokol kesehatan.

“Pandemik ini terlalu besar dan terlalu penting jika hanya diserahkan kepada pemerintah pusat saja atau kepada Gugus Tugas saja. Pemerintah daerah bersama pemimpin masyarakat, ulama, bahkan ketua RT, para influencer, juga kepala rumah tangga harus lebih giat lagi menerapkan PSBB,” saran LSI Denny JA.

Disebutkan, saatnya para relawan terpanggil melakukan perannya masing masing. Para influencers sebagai misal dapat ikut berkampanye pentingnya protokol kesehatan: social distancing, masker, cuci tangan, dan ibadah di rumah saja.

Dikatakan, vaksin belum ditemukan. Satu satunya senjata yang dimiliki adalah PSBB dan protokol kesehatan. Bersama kita targetkan, di bulan ini, kasus baru terpapar Covid-19 harus menurun drastis.

Selesai lebaran, diharapkan perlahan mulai kembali kehidupan usaha masyarakat, kantor, sekolah, agar ekonomi tidak merosot tajam.

“Namun ini hanya mungkin dilakukan jika kasus baru terpapar Covid-19 merosot dratis dan warga patuh dengan aneka protokol kesehatan,” demikian pernyataan LSI Denny JA.



Sumber: Suara Pembaruan