Kluster Besar Baru Covid-19, DIY Direkomendasikan Terapkan PSBB

Kluster Besar Baru Covid-19, DIY Direkomendasikan Terapkan PSBB
Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 di laboratorium. (Foto: AFP)
Fuska Sani Evani / YUD Minggu, 10 Mei 2020 | 17:11 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Selain kluster besar Jamaah Tabligh Jakarta dan Sidang Sinode Bogor, ditemukan satu lagi kluster penyebaran Covid-19 di DI Yogyakarta, yakni Supermarket Indogrosir. Diketahui, 57 karyawan setempat reaktif terhadap rapid test dan tujuh (7) orang sudah dinyatakan positif, yakni tiga orang warga Bantul dan empat orang berdomisili di Sleman.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 DIY Berty Murtiningsih, Minggu (10/05/2020) menyatakan, terkonfirmasi positif pada hari ini tanggal 10 Mei 2020 terdapat tambahan 7 kasus positif, sehingga total kasus positif Covid-19 di DIY menjadi sebanyak 153 kasus.

Baca juga: PSBB Tahap II Makassar, Polisi Akan Lebih Tegas

Diantaranya, dua (2) Warga Negara India, yang sebelumnya menunjukkan hasil negatif. Dengan demikian, enam (6) dari 15 orang WN India sudah dinyatakan positif.

Dijelaskan, WN India yang ditampung di Balai Pelatihan Kerja Sempu Bantul, pada awalnya reaktif rapid test, namun negatif pada tes swab. Saat dilakukan rapid test ulang, hasilnya menunjukkan reaktif, sekaligus swab positif, dan semuanya merupakan orang tanpa gejala (OTG).

“Terjadinya kenaikan kasus yang ada saat ini sebagian besar adalah hasil tracing kasus yang ada, dan menunjukkan upaya kita untuk memutus mata rantai penularan dilakukan optimal. Sebagai contoh, seandainya kita tidak melalukan tracing pada kasus 79 (karyawan Indogrosir), maka tidak akan ditemukan kasus kasus liannya, apalagi kasus kasus tersebut adalah OTG yang sangat berpotensi menularkan kepada banyak orang,”katanya.

Kenaikan kasus, sebagai konsekuensi pelacakan dan menunjukkan bahwa penularan masih terjadi disekitar masyarakat, maka protokol kesehatan juga harus dilakukan dengan lebih ketat.

Sementara itu dilaporkan satu kasus sembuh, yakni Kasus 79 : Laki laki, 45 th, warga Sleman, dan total kasus sembuh di DIY mencapai 60 orang. Sementara, kematian PDP dalam proses, Perempuan, 56 tahun, warga Sleman dalam kondisi kanker usus.

Menilai munculnya kluster besar baru yang kemungkinan besar juga menularkan kepada masyarakat khususnya curtomer Indogrosir, sebelumnya, Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana menilai bahwa DIY sudah saatnya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) perwilayah.

Baca juga: Picu Depresi, PSBB Perlu Segera Diakhiri

"DIY sudah memenuhi syaratnya. Sudah ada transmisi lokal," katanya.

Namun menurutnya, pengajuan PSBB bukan perkara sederhana. Dan memiliki risiko bagi masyarakat terutama dari sisi perekonomian, termasuk anggaran daerah.

Karena itu, upaya pencegahan penularan Covid-19 juga harus disertai dengan tindakan tegas dari aparat. Hal ini, menurut dia, jauh lebih murah dibandingkan upaya pengobatan, apalagi jika PSBB diterapkan.

"Pemda DIY baru menerapkan upaya pencegahan dengan standar umum, padahal, sudah sangat dibutuhkan upaya tambahan, misalkan pencegahan kerumunan di tempat-tempat umum yang saat ini mulai ramai," katanya.

Baca juga: Karawang Segera Terapkan Sanksi Pelanggaran PSBB Jabar

Huda juga mengambil contoh, pemberlakuan standar kesehatan yang longgar di Supermarket Indogrosir hingga menyebabkan 57 karyawan reaktif hasil rapid test, dan 7 telah positif corona, harus menjadi pembelajaran bersama.

Namun, menurut Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji, tidak menutup kemungkinan PSBB diberlakukan di wilayah DIY. Hanya saja, pengajuan PSBB ke pemerintah pusat tidak bisa diputuskan sepihak.

Menurutnya, harus ada usulan dari Kabupaten/Kota, juga analisis dari Kemkes, Kemdagri, dan Kemkeu RI terkait dengan ketersediaan anggaran apabila DIY menerapkan PSBB.

Sementara itu, Anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Covid-19 DIY, dr Riris Andono Ahmad mengatakan berdasarkan penyelidikan epidemiologi terdapat tiga klaster besar penularan Covid-19 yang ada di DIY.

Ia menjelaskan tiga klaster itu terdiri atas satu klaster di Kabupaten Sleman dan satu klaster di Kabupaten Gunungkidul yang berawal dari anggota jamaah tabligh yang baru pulang dari DKI Jakarta.

Klaster di Kabupaten Sleman tersebar terutama melalui kegiatan pertemuan di tempat peribadatan, sementara klaster di Kabupaten Gunungkidul disebarkan melalui kontak erat antarkasus.

"Klaster kasus di Sleman telah mencapai generasi ketiga. Klaster kasus di Gunungkidul telah mencapai generasi kelima," katanya.

Menyusul munculnya kluster baru yakni Indogrosir, Pemerintah Kota Yogya langsung menyiagakan dan meminta sakit rujukan covid-19 untuk menyiapkan kamar isolasi tambahan, karena sebagaian besar pengunjungnya sebagian dari Kota Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menjelaskan saat ini baru 45 kamar isolasi di tujuh rumah sakit. Dengan munculnya klaster baru, ada kemungkinan akan dibutuhkan ruang isolasi tambahan.

Heroe berpandangan, kluster Indogrosir merupakan transmisi lokal, sehingga potensi persebarannya luas.

Dikatakan, di Kota Yogyakarta, telah ditemukan dua PDP dari klaster Indogrosir yang saat ini sedang menunggu uji swab. “Keduanya reaktif rapid, sekarang diisolasi di rumah sakit,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com