BMKG: Bunyi Dentuman Besar di Jawa Tengah Bukan dari Aktivitas Gempa

BMKG: Bunyi Dentuman Besar di Jawa Tengah Bukan dari Aktivitas Gempa
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono. ( Foto: Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Senin, 11 Mei 2020 | 13:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah April lalu, sejumlah warga di Jakarta, Depok dan Bogor mendengar suara dentuman, pada Senin (11/5/2020) pukul 00.45 WIB sampai dengan 01.15 WIB warga di Jawa Tengah juga kembali mendengar dentuman keras. Namun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menduga suara dentuman tersebut tidak berasal dari aktivas gempa tektonik.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, setelah dilakukan pengecekan terhadap gelombang seismik dari seluruh sensor gempa BMKG yang tersebar di Jawa Tengah, hasilnya menunjukkan tidak ada catatan aktivitas gempa yang terjadi di Jawa Tengah.

"Sehingga kami memastikan sumber suara dentuman tersebut tidak berasal dari gempa tektonik," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/5/2020).

Daryono menjelaskan, jika sebuah aktivitas gempa sampai mengeluarkan bunyi ledakan, artinya kedalaman hiposentrum gempa tersebut sangat dangkal, dekat permukaan, dan jika itu terjadi maka akan tercatat oleh sensor gempa.

Saat ini BMKG mengoperasikan lebih dari 22 sensor gempa dengan sebaran yang merata di Jawa Tengah. Sehingga jika terjadi gempa di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya maka dipastikan gempa tersebut akan terekam. Selanjutnya diproses untuk ditentukan magnitudo dan lokasi titik episenternya untuk diinformasikan kepada masyarakat.

Ia menambahkan, bunyi ledakan akibat gempa sangat dangkal lazimnya hanya terjadi sekali saat terjadi patahan batuan dan tidak berulang-ulang, seperti halnya peristiwa gempa dangkal yang mengeluarkan dentuman keras di Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada 17 Februari 2014.

Saat itu, gempa Lereng Merbabu memiliki magnitudo M 2,7 terjadi pagi hari pukul 06.01.19 WIB. Episentrumnya terletak pada koordinat 7,39 LS dan 110,48 BT dengan kedalaman 3 km. Seperti yang dilaporkan warga Desa Sumogawe, gempa yang merusak beberapa rumah ini diikuti suara dentuman keras hingga membuat warga resah, khawatir Gunung Merbabu akan meletus.

"Ada beberapa kemungkinan penyebab suara dentuman saat terjadi gempa. Fenomena dentuman saat gempa dapat terjadi jika gempa memicu gerakan tanah berupa rayapan tiba-tiba dan sangat cepat di bawah permukaan, " paparnya.

Kemungkinan lain berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif, dalam hal ini ada mekanisme dislokasi batuan yang menyebabkan pelepasan energi berlangsung secara tiba-tiba dan cepat hingga menimbulkan suara ledakan.

Apalagi jika terjadinya patahan batuan tersebut terjadi di kawasan lembah dan ngarai atau di kawasan tersebut banyak rongga batuan sehingga memungkinkan suaranya makin keras karena resonansi.

Beberapa peristiwa gempa Bantul tahun 2006 juga mengeluarkan bunyi dan sempat meresahkan warga saat itu. Namun suara dentuman yang terjadi Senin (11/5/2020) pagi dipastikan bukan dari aktivitas gempa tektonik.



Sumber: BeritaSatu.com