Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Akui Jadi Calo Tanah Eks Menpora
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Akui Jadi Calo Tanah Eks Menpora

Selasa, 12 Mei 2020 | 17:24 WIB
Oleh : Fana F Suparman / YS

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta Hasbiallah Ilyas mengakui menjadi perantara atau calo jual beli tanah mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Tanah seluas sekitar 1.200 meter persegi (m2) di Jl Manunggal II, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur itu dibeli Imam melalui Hasbiallah dari pihak swasta bernama Thamrin. Pengakuan ini disampaikan Hasbiallah saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap dana hibah KONI dan gratifikasi dengan terdakwa Miftahul Ulum, asisten pribadi Imam Nahrawi, Senin (11/5/2020) malam.

"Pernah (menjadi perantara jual beli tanah) di Ceger" kata Hasbiallah Ilyas.

Dituturkan Hasbiallah, mulanya, Imam bercerita mengenai keinginannya mencari tanah di Jakarta. Keinginan Imam itu disanggupi Hasbiallah. Kebetulan, Thamrin yang merupakan kolega Hasbiallah saat itu menjual tanahnya.

"Pada waktu itu Pak Imam masih jadi Sekjen di DPP PKB, kita main setelah Pemilu, Pak Imam ngomong pengen punya rumah di DKI, cariin tanah dong ji (Hasbiallah), ya saya cariin. Ya sudah muter-muter akhirnya ketemu tanah Pak Thamrin yang kebetulan teman saya juga, Pak Imam lihat di Ceger. Cocok," tutur Hasbiallah.

Singkat cerita, Imam tertarik dengan tanah yang dijual itu. Menurut Hasbiallah harga tanah yang dijual saat itu senilai Rp 4 juta per meter. Dengan luas tanah 1.200 meter persegi total jual beli tanah itu disepakati senilai Rp 4 miliar.

Hasbiallah mengaku dalam jual beli maupun pembayaran tanah lebih banyak berhubungan dengan Ulum. Pembayaran tanah, sambung Hasbiallah, dilakukan secara bertahap tanpa bukti pembayaran.

"Saya yang bayar ke pemilik uang dari Mas Ulum. Melalui Mas Miftahul Ulum. (Pembayaran tanah) bertahap, dicicil cash. Ngga (ada kuitansi) ada saling kepercayaan saja," ujar Hasbiallah.

"Di BAP No 12 dicicil Rp 500 juta?" tanya Jaksa.

"Saya ikut BAP saja karena waktu itu saya dikumpulin berdua," jawab Hasbiallah.

Tak hanya menjadi calo tanah, Hasbiallah juga menawarkan jasa balik nama surat tanah dan pembuatan pondasi rumah dengan total biaya senilai Rp 170 juta.

Biaya tersebut terdiri atas biaya balik nama dari Thamrin ke istri Imam Nahrawi, Shobibah Rohman senilai Rp 50 juta serta jasa biaya pembuatan fondasi senilai Rp 120 juta.

"Saya suruh cariin tanah, yang nukangin saya, saya bangun saya bikin gambar, saya konsolidasi ke ibu (Shobibah) di rumah beliau di Kalibata di rumah dinas DPR, konsolidasi ini itu," ucapnya.

Namun, Hasbiallah mengungkapkan, biaya senilai Rp 170 juta itu belum dibayar lunas. Hasbiallah menahan surat tanah tersebut. Belakangan surat tanah itu diserahkan Hasbiallah ke penyidik KPK.

"Saya nagih ke Mas Ulum udah pegel, pegel bahasa betawinya apa ya mohon maaf, gimana ya 'Lum kapan mau bayar? 'Lagi gak punya duit, lagi gak punya duit'," katanya.

Meski sempat membangun fondasi di atas tanah tersebut, Hasbiallah mengaku bukanlah pihak yang membangun rumah.

Diungkapkan, desain dan pembangunan rumah di atas tanah itu beralih kepada pihak yang ditunjuk oleh Shohibah.

"Ngga taunya tiba-tiba diputusin sepihak, bukan saya lagi yang ngebangun, padahal saya udah bangun fondasi, ya udah saya tahan suratnya sampai dia bayar punya saya. Saya kan ngarep saya yang bangun, tiba-tiba ada orang ibu Shohibah namanya Dadang saya yang bangun ini rumah, ya sudah," katanya.

Diketahui, desain rumah itu kemudian dikerjakan oleh Budipradono Architecs. Tak hanya membangun rumah, Budipradono Architecs juga merancang butik Shohibah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Atas jasanya itu, Budipradono menerima imbalan miliaran Rupiah dari pihak Shobibah. Hal ini diakui Budiyanto Pradono selaku arsitek dari Kantor Budipradono Architecs saat bersaksi untuk terdakwa Imam Nahrawi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (29/4/2020).

Dikatakan, desain rumah di Ceger dan interior butik di Kemang sudah selesai dikerjakan pihaknya. Semua proses desain yang diminta Shobibah, kata Budiyanto telah selesai kerjakan dan diberikan kepada Nino, orang suruhan Shobibah.

"Ceger sudah dikerjakan. Desain interior butik di Kemang sudah dikerjakan. (Rumah tinggal) Jagakarsa sudah dikerjakan bahkan sampai 100 persen," ucap Budiyanto.

Terkait urusan pembayaran, Budiyanto mengaku pihak Shobibah melalui Miftahul Ulum telah menyerahkan Rp 2 miliar kepada Intan Kusumadewi, sekretaris nya secara bertahap.

"Yang dibayarkan Rp 2 miliar, padahal kalo 3 rumah nggak sampai segitu," kata Budiyanto.

Budiyanto mengenal Shobibah di Mall Pacific Place, Jakarta Selatan sekitar tahun 2015. Saat itu Budiyanto dan Intan dikenalkan dengan Shobibah oleh Dadank I Sarjani selaku owner representative.

"Intinya (Shobibah) mau membuat rumah di Ceger (Jakarta Timur)," terang Budiyanto.

Setelah pertemuan pertama itu, Budiyanto dan Intan kembali membuat janji bertemu dengan Shobibah di rumah dinas Imam Nahrawi di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Pertemuan itu turut dihadiri oleh Imam Nahrawi. Saat itu, Budiyanto datang dengan membawa proposal rincian biaya desain rumah lengkap dengan interiornya seperti yang diminta Shobibah.

"Pertama kali perkenalan di Pacific Place. Setelah siap dengan proposal baru di Widya Chandra. (Bersama) Pak Imam dan Ibu Shobibah," ujar Budiyanto.

Kemudian, Budiyanto mempresentasikan rencana desain rumah dalam proposalnya yang kemudian disetujui oleh Shobibah. Untuk urusan administrasi, Shobibah meminta Budiyanto berkordinasi dengan Miftahul Ulum.

"Lalu saya hubungkan (Ulum) dengan Bu Intan urusan administrasi, karena saya urusannya bagian desain," kata Budiyanto.

"Nilai kontrak Rp 700 juta untuk jasa desain. Proposal Rp 1 miliar lebih. Diberi diskon, karena ada rumah untuk pesantren," ditambahkan Budiyanto.

"Apa ada permintaan lainnya?" tanya jaksa KPK.

"Ada interior cafe di Jalan Benda dan rumah tinggal di Jakarta Selatan, Jagakarsa. Desain interior butik," jawab Budiyanto.

"Jasa desainnya berapa?," kata jaksa kembali bertanya.

"Rp 90 juta di kontraknya. Rumah ketiga Jagakarsa bentuknya desain rumah tinggal dan ada tempat joglo dan pesantrennya. Nilainya ditawarkan dan disepakati Rp 850 juta," jawab Budiyanto.

Imam Nahrawi membantah kesaksian tersebut. Bahkan Imam meminta jaksa menghadirkan Intan untuk membuktikan adanya pembayaran dari Miftahul. Namun, Budiyanto menyanggah permintaan itu lantaran Intan sudah meninggal.

"(Intan) sudah meninggal 1 bulan lalu. Sebelumnya kerja posisi sebagai sekretaris," ujar Budiyanto.

Dalam perkara ini, Imam Nahrawi bersama-sama asisten pribadinya Miftahul Ulum didakwa menerima suap sebesar Rp 11,5 miliar dari mantan Sekretaris Jenderal KONI Endang Fuad Hamidy agar mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan oleh KONI pusat kepada Kemenpora pada tahun kegiatan 2018 lalu. Selain itu, Imam dan Ulum didakwa menerima gratifikasi senilai Rp 8,6 miliar dari beberapa pihak. Dari gratifikasi yang diterimanya itu, salah satunya digunakan Imam untuk pembangunan rumah.

Dijelaskan dalam dakwaan, ada uang gratifikasi sejumlah Rp 2 miliar dari Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (PRIMA) Kempora periode tahun 2015 sampai dengan 2016.

Uang itu kemudian digunakan untuk pembayaran jasa desain Konsultan Arsitek Kantor Budipradono Architecs, yakni jasa desain arsitektur Rumah di Jalan Manunggal II, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur; jasa Desain Interior Hatice Boutique & Café Jalan Benda Raya No. 54C Kemang, Jakarta Selatan dan jasa Desain Tahap Awal Arsitektur (preliminary) Rumah Jalan Pembangunan, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan


BERITA LAINNYA

Airlangga Hartarto: Tradisi Apem Ki Ageng Gribig Bermakna untuk Majukan Ekonomi Masyarakat

Ki Ageng Gribig adalah seorang ulama yang bisa menggabungkan unsur ilahiyah dengan budaya masyarakat dan membantu ekonomi masyarakat.

NASIONAL | 23 September 2021

Pengamat: Ada 4 Hal dalam Penanganan KKB di Papua

Pengamat Intelijen dari UI Ridlwan Habib mengatakan, ada 4 hal yang perlu disoroti dalam penanganan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua

NASIONAL | 23 September 2021

Oknum Pejabat di Papua Diduga Biayai KKB

Oknum pejabat daerah di Papua diduga turut membiayai KKB. Aparat keamanan diharapkan dapat menelusuri informasi tersebut.

NASIONAL | 23 September 2021

Dikabarkan Jadi Tersangka, Azis Syamsuddin Diperiksa KPK Besok

Beredar informasi, KPK akan memeriksa Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin pada Jumat (24/9/2021) besok. Azis dikabarkan telah menjadi tersangka kasus dugaan suap.

NASIONAL | 23 September 2021

Lepasliarkan 1.500 Tukik di Cilacap, Jokowi: Agar Tidak Punah

Jokowi berharap kelestarian satwa penyu di Tanah Air dapat terus terjaga dan tidak punah.

NASIONAL | 23 September 2021

Pengacara Mu’min Ali Gunawan: KPK Salah

Temuan KPK tentang keterlibatan PT Bank Panin Tbk dalam kasus korupsi pajak dinilai salah atau tidak sesuai fakta.

NASIONAL | 23 September 2021

Polisi Bekuk 20 Tersangka Pemalsuan Uang di 5 Kota

Bareskrim Polri, menangkap 20 orang tersangka terkait kasus pembuatan dan peredaran uang palsu, di Jakarta, Tangerang, Bogor, Sukoharjo, dan Demak.

NASIONAL | 23 September 2021

Kalbis Institute Menangkan 3 Lomba Tingkat Nasional

Kalbis Institute kembali menorehkan prestasi dengan memenangkan beberapa lomba di tingkat nasional.

NASIONAL | 23 September 2021

Anggota DPR Dukung Usaha Pemerintah Berangus KKB Papua

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Dave Laksono mendukung upaya pemerintah dalam memberangus KKB di Papua yang telah menyerang warga sipil hingga nakes.

NASIONAL | 23 September 2021

Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Polri: Kasusnya Sangat Kompleks

Teka-teki siapa pelaku pembunuh Tuti Suhartini (55) dan anaknya Amalia Mustika Ratu (23), di Subang, Jawa Barat, belum terpecahkan.

NASIONAL | 23 September 2021


TAG POPULER

# PON Papua


# Tukul Arwana


# Toko Obat Ilegal


# Piala Sudirman


# Suap Pejabat Pajak



TERKINI
Airlangga Hartarto: Tradisi Apem Ki Ageng Gribig Bermakna untuk Majukan Ekonomi Masyarakat

Airlangga Hartarto: Tradisi Apem Ki Ageng Gribig Bermakna untuk Majukan Ekonomi Masyarakat

NASIONAL | 5 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings