Satu Pegawai Meninggal karena Covid-19, Dispendukcapil Surabaya Ditutup

Satu Pegawai Meninggal karena Covid-19, Dispendukcapil Surabaya Ditutup
Paramedis menangani pasien terinfeksi virus "corona". (Foto: AFP / Alberto Pizzoli)
/ YUD Rabu, 13 Mei 2020 | 20:14 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Gara-gara seorang pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya meninggal dunia akibat Covid-19, kantor pelayanan di Mal Pelayanan Publik Siola, Surabaya, sementara waktu ditutup.

"Jadi karena ada satu pegawai yang sebelumnya berstatus PDP (pasien dengan pengawasan) meninggal, Dispendukcapil kini ditutup sementara selama 14 hari. Sekarang sudah hari kelima berjalan," kata Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya M. Fikser kepada wartawan di Surabaya, Rabu (13/5/2020).

Baca juga: PP Pemulihan Ekonomi Nasional untuk Melindungi Usaha Rakyat dari Dampak Covid-19

Fikser menjelaskan jika temuan kasus Covid-19 itu tidak menjadikan penutupan seluruh layanan yang ada di Mal Pelayanan Publik Siola. "Karena yang PDP ini bagiannya di dalam kantor. Jadi, tidak di area layanan sehingga yang kita tutup hanya Dispendukcapilnya saja," ujarnya.

Terkait layanan kependudukan bagi masyarakat Surabaya, Fikser menjamin jika kasus PDP ini tidak akan mengganggu secara signifikan. Apalagi, lanjut dia, sekarang sebagian besar layanan sudah dilakukan melalui laman dan secara daring.

Baca juga: Pelanggar PSBB di Tangerang Akan Dites Covid-19

Diketahui seorang pegawai Dispendukcapil Surabaya Eko Wahono telah meninggal dunia di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya akibat Covid-19 pada Selasa (12/5) sekitar pukul 11.45 WIB. Almarhum tertular istrinya yang bekerja di Pabrik Rokok Sampoerna Rungkut, Surabaya.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya saat ini menerapkan metode sarang tawon untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19, khususnya di wilayah perkampungan. Metode yang dimaksud adalah ketika ditemukan satu orang positif di suatu wilayah, maka pemkot langsung menggelar rapid test secara massal di lokasi itu.

Baca juga: Update Covid-19: Kasus Positif 15.438, Sembuh 3.287, Meninggal 1.028

"Kita melakukan metode sarang tawon. Jadi ketika di lokasi-lokasi ditemukan ada terpapar, maka di kampung itu kita lakukan rapid test secara massal, sejumlah warga yang ada di situ," kata Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, Eddy Christijanto.

Eddy menjelaskan, hingga saat ini Pemkot Surabaya telah menggelar rapid test massal di lima wilayah perkampungan Surabaya, di antaranya Manukan Kulon, Bratang Gede, Rungkut Lor dan Kedung Baruk.

Ketika dilakukan rapid test hasilnya ditemukan ada yang reaktif, maka orang tersebut langsung dilakukan swab. "Tapi swab kan keputusannya menunggu 4 sampai 8 hari. Sambil menunggu hasil swab itu, arahan ibu wali kota agar orang tersebut dilakukan isolasi di salah satu hotel," katanya.



Sumber: ANTARA