Tjahjo Kumolo: Revolusi Mental ASN untuk Tujuan Pembangunan

Tjahjo Kumolo: Revolusi Mental ASN untuk Tujuan Pembangunan
Tjahjo Kumolo. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / FER Jumat, 15 Mei 2020 | 20:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Revolusi mental aparatur negara merupakan sebuah keharusan untuk mencapai tujuan pembangunan. Upaya membangun Indonesia menjadi negara besar yang maju, diperlukan lebih dari sekedar hal bersifat fisik. Aparatur negara dengan jiwa kebangsaan kokoh menjadi modal utama yang diperlukan saat ini.

Baca Juga: ASN Bakal Diganjar Sanksi Tegas Jika Nekat Mudik

Demikian disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan RB) Tjahjo Kumolo saat menjadi pembicara dalam kuliah daring Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Sespimti Polri Dikreg ke-29, Jumat (15/5/2020).

"Presiden Sukarno pernah mengatakan bahwa revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala," ungkap Tjahjo.

Menurut Tjahjo, cita-cita Sukarno itu menjadi dasar dari dihidupkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab gerakan revolusi mental sangat relevan untuk bangsa Indonesia yang sedang menghadapi tiga masalah pokok.

Baca Juga: Work From Home ASN Diperpanjang Hingga 29 Mei

Pertama, merosotnya wibawa negara. Kedua, merebaknya intoleransi. Ketiga, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional. Tjahjo menjelaskan gerakan revolusi mental dibagi menjadi lima program gerakan nasional.

Salah satunya program Gerakan Indonesia Melayani (GIM) yang fokus pada penciptaan budaya baru di lingkungan unit kerja dan organisasi aparatur negara. Tjahjo menuturkan budaya baru yang ingin dibangun terdiri atas enam poin utama.

Pertama, kepekaan terhadap orang lain baik pengguna layanan, pemangku kepentingan, bawahan, maupun pegawai lainnya. Kedua, munculnya pegawai yang inovatif, kreatif, dan cerdas. Ketiga, adanya keberanian untuk mengambil risiko untuk keputusan strategis yang mendesak.

Keempat, memperlakukan pegawai sebagai aset paling berharga bagi organisasi. Kelima, keterbukaan komunikasi bagi pegawai. Keenam, membangun hubungan yang solid antar pegawai.

Baca Juga: Cuti Bersama Lebaran 2020 Digeser ke Desember

Menurut Tjahjo membangun budaya baru di unit kerja maupun organisasi bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal tersebut dapat terlaksana apabila ada kemauan dari aparatur negara untuk melakukan perubahan dan berani keluar dari zona nyaman.

"Kita harus mengubah cara kita melayani masyarakat. Kita harus membangun sinergi antar satuan kerja dalam mewujudkan target-target pembangunan," ujar mantan menteri dalam negeri tersebut.

Tjahjo menegaskan ada beragam kunci yang harus dikombinasikan untuk menjamin keberhasilan revolusi mental bagi aparatur negara. Meski begitu yang paling utama yaitu konsistensi dan komitmen. Tjahjo optimistis jika upaya perubahan dilakukan secara konsisten dan penuh komitmen, maka ke depan pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan yang disegani dan dihormati.

Baca Juga: Tjahjo Apresiasi Mal Pelayanan Publik Tetap Buka

Tidak hanya oleh masyarakatnya, tetapi juga oleh dunia internasional. "Mari kita tingkatkan kerja sama bahu-membahu untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat, serta keunggulan bangsa agar mampu berkiprah tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional," kata Tjahjo.



Sumber: BeritaSatu.com