Wapres: Potensi Industri Produk Halal dan Keuangan Syariah Sangat Besar

Wapres: Potensi Industri Produk Halal dan Keuangan Syariah Sangat Besar
Wapres Ma'ruf Amin. (Foto: ANTARA/Anis Efizudin)
Markus Junianto Sihaloho / YS Minggu, 17 Mei 2020 | 20:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menyatakan saat ini adalah momen yang tepat untuk mengembangkan potensi industri produk halal dan jasa keuangan syariah di Indonesia.

Menurut Wapres, sebagai anggota negara G20 dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di dunia. Bahkan Indonesia diprediksi akan masuk kelompok lima negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2045.

Untuk itu, pemerintah mendorong dikembangkannya potensi keuangan syariah serta industri produk halal di Indonesia.

“Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin memberikan kesempatan dan dukungan yang seluas-luasnya agar ekonomi dan keuangan syariah dapat berkembang dengan pesat," ungkap Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dalam program 'Satukan Shaf Indonesia: Prospek Ekonomi Syariah di Indonesia', Minggu (17/5/2020).

Merujuk data statistik, Wapres mengatakan, masyarakat Indonesia menjadi konsumen makanan dan minuman halal terbesar di dunia. Indonesia juga menempati urutan ke-5 dalam pengeluaran untuk pariwisata halal, urutan ke-3 dalam pengeluaran untuk busana muslim, serta urutan ke-6 dalam pengeluaran berkaitan dengan kesehatan dan farmasi halal.

“Target ke depannya kita harus dapat menjadi produsen untuk pasar domestik, dan sekaligus eksportir produk-produk halal untuk pasar halal dunia,” tegas Wapres.

Indonesia, lanjutnya, dapat memanfaatkan potensi pasar halal dunia dengan meningkatkan ekspor yang saat ini baru berkisar 3,8% dari total pasar halal dunia. Selain di bidang pangan, potensi lainnya di bidang modest fashion seperti hijab dan pakaian muslim lainnya.

Dijelaskannya, data dari The State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, hingga USD 270 miliar dibelanjakan oleh warga dunia yang beragama Islam untuk modest fashion pada tahun 2017. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi USD 361 miliar pada tahun 2023.

"Hal ini tentu merupakan peluang bagi Indonesia baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” ujar Wapres.

Dalam pengembangan produk halal, Wapres berpesan, agar pelaku usaha dapat menyediakan produk halal berkualitas dan bermanfaat. Hal ini mengingat adanya kasus investasi bodong ataupun produk halal berkualitas rendah serta jasa pelayanan travel yang cenderung mengeksploitasi umat Islam, sehingga dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan industri halal di Indonesia.

"Hikmah dari adanya pandemi Covid-19 ini adalah umat Islam akan semakin peduli pada aspek kesehatan produk termasuk higienitas dan manfaatnya. Hal ini tentu akan berdampak baik pada pengembangan produk halal di masa yang akan datang," bebernya.

Menyangkut jasa keuangan syariah, Wapres menjelaskan pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,6%. Perbankan syariah baru mencapai 5,6%. Angka ini masih jauh dibandingkan dengan potensi yang ada.

”Saat ini kita memiliki momentum yang baik dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Oleh karena itu, kita tentu perlu terus mendorong agar keuangan syariah dapat terus berkembang dan mencapai potensinya,"kata Wapres.

Diapun mendorong agar aktivitas ekonomi dan produk keuangan syariah dapat menjadi gaya hidup semua orang. Sehingga ekonomi dan keuangan syariah bukan merupakan hal yang eksklusif, tapi menjadikannya inklusif dan bersifat universal.

"Sebagai negara yang menganut dual economy system, ekonomi syariah dan konvensional harus saling bersinergi dan tidak dibenturkan satu dengan yang lain," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan