Tersangka Pemotongan Dana BST di Sumut Bertambah

Tersangka Pemotongan Dana BST di Sumut Bertambah
Ilustrasi bantuan langsung tunai (BLT), (Foto: Antara)
Arnold H Sianturi / LES Selasa, 19 Mei 2020 | 14:29 WIB

Medan, Beritasatu.com - Jumlah tersangka dalam kasus pemotongan dana bantuan sosial tunai (BST) sebesar Rp 500.000 dari nilai bantuan pemerintah pusat Rp 600.000, yang dilakukan oknum perangkat desa di Desa Buluduri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut), bertambah menjadi dua orang.

"Orang yang baru ditetapkan sebagai tersangka adalah berinisial MS. Dia merupakan istri dari Kepala Desa Buluduri, Kecamatan Lae Parira. Tersangka sebelumnya berinisial EA, bertindak sebagai pemotong dana," ujar Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Humas Polres Dairi, Iptu Donny Saleh, Selasa (19/5/2020).

Donny mengatakan, MS dijadikan tersangka setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap EA. Tersangka EA mengaku sebagai suruhan MS. EA merasa tidak terima karena merasa ditumbalkan. Dia kemudian meminta polisi juga harus memproses orang yang memberi perintah mengambil kembali uang dari warga penerima dana BST.

"Penyidik masih melanjutkan proses pemeriksaan terhadap tersangka MS untuk mengungkap keterlibatan pihak lainnya. Kasus ini tetap berjalan dan akan dilanjutkan ke kejaksaan supaya nantinya diajukan ke pengadilan. Penyidik juga mengambil keterangan sejumlah warga yang dirugikan," katanya.

Kasus dugaan penyunatan dana bantuan pemerintah pusat, yang terjadi di Desa Buluduri itu sudah masuk ke dalam laporan penyelidikan. Laporan itu ditindaklanjuti berdasarkan pengaduan Togu Sinaga dengan laporan pengaduan sesuai : LP/147/V/SU/DR/SPK tanggal 13 Mei 2019.

"Dalam penanganan kasus ini, penyidik sudah menetapkan status tersangka terhadap Eni Aritonang, perangkat Pemerintah Desa Buluduri. Orang bersangkutan dijerat dengan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan. SPDP-nya sudah disampaikan ke kejaksaan," ungkap Donny sambil menambahkan, ada uang sekitar Rp 12,3 juta yang diamankan.

Uang itu, sambung Donny, diduga hasil yang dikumpulkan dari sejumlah warga penerima bantuan pemerintah yang mendapatkan pemotongan dana setelah mengambil uang tersebut. Togu Sinaga yang merupakan salah seorang korban, hanya menerima uang sebesar Rp 100.000 setelah sebelumnya menerima bantuan Rp 600.000.

"Kami mencoba mengembangkan guna mengungkap otak di balik pemotongan bansos ini, sekaligus pihak-pihak lain yang terlibat. Penyidik juga sudah mengambil keterangan dari sejumlah warga. Ada sekitar lima sampai enam orang yang sudah diperiksa dalam kasus pemotongan dana bantuan ini," sebutnya.



Sumber: BeritaSatu.com