Kampus Swasta Mulai Tahun Ajaran Baru dengan Fleksibel

Kampus Swasta Mulai Tahun Ajaran Baru dengan Fleksibel
Ilustrasi perkuliahan. ( Foto: nationofchange.org )
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 19 Mei 2020 | 23:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi), Budi Djatmiko mengatakan, perguruan tinggi swasta (PTS) akan memulai tahun akademik atau ajaran baru 2020/2021 secara fleksibel. Artinya, PTS kembali membuka tahun ajaran baru mulai Juli hingga September sesuai kelender akademik penetapan awal semester dari pangkalan data pendidikan tinggi (PDPT).

“Jadi PTS tetap menyesuaikan dengan waktu yang ditetapkan. Ada yang masuk lebih awal bulan Juli, ada juga yang di September. Intinya fleksibel seperti tahun-tahun sebelumnya dan ditambah kondisi saat ini,” kata Budi saat dihubungi SP, Selasa (19/5/2020) malam.

Budi menyebutkan, dari hasil rapat koordinasi nasional (rakornas) Aptisi, PTS telah melakukan beberapa kesepakatan menjalankan pendidikan di tengah pandemi Covid-19 ini. Salah satunya, PTS sepakat memberi beberapa keringanan kepada mahasiswa, baik untuk pembayaran uang kuliah maupun kesempatan untuk menuntaskan proses pembelajaran.

Khusus untuk pembelajaran. Budi menuturkan, PTS menyadari kegiatan belajar dari rumah yang dikenal dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa dijalan oleh semua mahasiswa. Maka, PTS memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan perbaikan nilai berupa tugas hingga semester pendek.

“Ujian semester genap tahun ajaran 2019/2020 yang kurang bagus diperbaiki dalam bentuk tugas dan sebagainya, meskipun UTS dan UAS (ujian tengah semester dan ujian akhir semester, red) telah dilakukan,” ujarnya.

Keringanan lain adalah memperpanjang masa belajar mahasiswa. Budi menuturkan, PTS akan menjalankan instruksi dari Surat Edaran (SE) terkait Masa Belajar Penyelenggaraan Program Pendidikan. PTS memberi kesempatan dua semester tambahan bagi mahasiswa semester terakhir yang terancam drop out (DO) dalam situasi pandemi ini.

Budi mengatakan, kesepakatan rakor Aptisi ini diambil karena memahami kondisi mahasiswa di masa pandemi. Sebab, banyak mahasiswa yang tidak maksimal menjalankan PJJ karena tidak memiliki gawai dan laptop. Selain itu, ada pula mahasiswa yang terkendala jaringan, terutama yang berlokasi di daerah terpencil.

Untuk memastikan mahasiswa mendapat keringanan ini, Budi menuturkan, Aptisi membuka layanan pengaduan di setiap wilayah. Mahasiswa yang sedang bermasalah dapat mengubungi Aptisi wilayah dan nanti akan dibantu mencari solusi.

“Misalnya ada mahasiswa yang bermasalah di perguruan tingginya, ia dapat melakukan pengaduan kepada ketua Aptisi wilayah. Nanti kita bantu beri solusinya. Lebih cepat penyelesaiannya karena saya tahu persis kondisi PTS seperti apa,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com