Indonesia Diminta Kurangi Ketergantungan Impor Alat Kesehatan
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Indonesia Diminta Kurangi Ketergantungan Impor Alat Kesehatan

Rabu, 20 Mei 2020 | 05:26 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / RSAT

Jakarta, Beritasatu.com - Hingga saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap barang impor, khususnya alat kesehatan (alkes) masih cukup tinggi. Padahal, Indonesia sendiri memiliki cukup banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan Alkes, terlebih di masa pandemi virus corona seperti saat ini.

"Saat ini ketergantungan indonesia terhadap produk impor Alkes sangat tinggi. Hanya 10 persen yang berasal dari dalam negeri," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, Ahyahuddin Sodri, dalam webinar diskusi The Habibie Center, Selasa (19/5/2020) di Jakarta.

Dijelaskan Ahyahuddin, hingga saat ini khusus di bidang alat kedokteran pun, merek yang digunakan dokter maupun perawat masih sedikit sekali yang menggunakan produk lokal. Padahal, jika mengharapkan Indonesia dapat tumbuh sebagai negara industri, justru harus dimulai dari penggunaan produk lokal.

"Bangsa kita masih menjadi bangsa yang bangga menggunakan produk impor. Kita bisa belajar industri dari negara yang dekat seperti Jepang, Korea, dan lain-lain," ujarnya.

Di masa pandemi virus corona seperti saat ini, Indonesia pun nampak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan di bidang alat kesehatan. Kalaupun ada, harus di impor dan akhirnya menguras keuangan negara.

Dalam penyediaan ventilator, misalnya, proyeksi Gugus Tugas Covid-19 tentang kebutuhan ventilator untuk penanganan Covid-19 mencapai sekitar 29.900 unit. Sedangkan ketersediaan ventilator menurut Kementerian Kesehatan pada kuartal I/2020 baru sekitar 8.413 unit yang tersebar di 2.867 fasilitas.

Ahyahuddin pun berharap agar ke depannya seluruh masyarakat Indonesia dapat sepakat menjadi bangsa yang dapat menciptakan dan menggunakan produknya sendiri. Dengan demikian, tidak perlu lagi bergantung pada negara lain dalam hal pemenuhan kebutuhan alat kesehatan.

Menurutnya ada tiga langkah yang bisa digunakan. Pertama harus dilakukan langkah komprehensif. Industri adalah masalah hulu ke hilir, ada bahan baku dan pengolahan dan sektor hilir pengguna. Kedua, industri alkes harus terstruktur, semua stakeholder harus dilibatkan. Ketiga, kembangkan industri alkes secara konsisten.

Disebutkan penyerapan pasar kebutuhan alat kesehatan di Indonesia pun cukup besar. Tidak kurang dari 3.000 rumah sakit dan 9.000 Puskesmas serta klinik swasta bisa dijadikan alasan pengembangan secara mandiri tersebut.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengakui, di masa-masa awal pandemi corona, Indonesia mengalami kekurangan alat medis. Di antaranya seperti alat pelindung diri (APD), masker standar medis, hingga ketersediaan ventilator.

"Sebenarnya di Indonesia ada bahan yang kalau diuji itu potensial menjadi bahan baku APD. Begitu pula yang dibutuhkan seperti masker yang ternyata bahan bakunya ada di Indonesia," kata Wiku Adisasmito.

Menurutnya, untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhan alat medis di masa pandemi corona sangat membutuhkan kolaborasi multisektor. Jika semuanya berjalan sendiri-sendiri, maka akan sulit bagi Indonesia untuk dapat mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

"Peran kementerian lembaga belum klik untuk menjadi satu. Padahal kemandirian bangsa untuk Covid-19 di bidang alkes ini bisa dilakukan," ucap Wiku.

Dirinya mencontohkan, khusus pemenuhan APD, ketika pihaknya menggerakkan seluruh sektor yang ada, saat ini sudah menunjukkan hasil yang cukup positif. Indonesia kini disebut-sebut mampu memproduksi sekitar 17 juta APD dalam satu bulan dan bisa sangat membantu memerangi penyebaran Covid-19.

Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham A Habibie, mengingatkan, saat ini memang sudah waktunya bagi Indonesia untuk memperkuat produk kesehatan lokal. Jangan sampai, Indonesia hanya dijadikan pasar impor produk alat kesehatan, padahal mampu membuat sendiri.

"Mempunyai satu ketahanan nasional tentunya harus kita seriuskan, termasuk dalam hal alat kesehatan. Produk kesehatan buatan indonesia ke depannya harus lebih diperkuat," kata Ilham Habibie.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Bantu 6 Ton Gula, Sunarko: Semoga Bisa Ringankan Prajurit Kopassus

Kehadirannya di Kopassus mengingatkan masa lalu. Sunarko mengaku selalu bangga dengan Kopassus karena sebagai prajurit Kopassus selalu menjadi patriot.

NASIONAL | 20 Mei 2020

Larangan Mudik, 9.092 Kendaraan di Tol Cikarang Barat Dialihkan

Menurut Kementerian Perhubungan, sebanyak 9.092 kendaraan dialihkan di Tol Cikarang Barat sejak diberlakukannya Permenhub No. 25 tahun 2020.

NASIONAL | 14 Mei 2020

KSP Salurkan Donasi 5.000 APD

Bantuan tersebut akan segera diserahkan langsung kepada gugus tugas dan rumah sakit yang membutuhkan.

NASIONAL | 19 Mei 2020

Belajar di Tengah Pandemi Harus Masuk Cetak Biru Pendidikan

Ini penting agar ke depannya dunia pendidikan Indonesia tidak tergagap-gagap bila kembali dihadapkan pada kondisi serupa.

NASIONAL | 19 Mei 2020

Kampus Swasta Mulai Tahun Ajaran Baru dengan Fleksibel

Kampus juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan perbaikan nilai berupa tugas hingga semester pendek.

NASIONAL | 19 Mei 2020

Momentum Puasa, Harkitnas, dan Lebaran untuk Bangkit Lawan Covid-19

Sejauh ini masyarakat masih lemah dari sisi komitmen bersama menghadapi Covid-19.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Dirjen Vokasi: Mahasiswa Harus Sesuaikan Pilihan Prodi dengan Minat dan Bakat

Selain pemilihan prodi, Wikan juga meminta calon mahasiswa untuk memahami tentang pendidikan vokasi di perguruan tinggi.

NASIONAL | 19 Mei 2020

Seleksi Masuk Politeknik Negeri Berubah Akibat Pandemi Covid-19

Seleksi diubah dari berbasis ujian tulis menjadi berbasis portofolio.

NASIONAL | 19 Mei 2020

KNPI Beri Bantuan Beras dan Sembako untuk Masyarakat Terdampak Covid-19

Beras yang disiapkan sebanyak 23 ton dan akan didistribusikan untuk masyarakat di tiga provinsi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

NASIONAL | 19 Mei 2020

Pelanggar PSBB di Pekanbaru Dijatuhi Hukuman Denda oleh Pengadilan

Jumlah denda yang dikenakan kepada para pelanggar PSBB di Pekanbaru, Riau bervariasi jumlahnya.

NASIONAL | 20 Mei 2020


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS