KPU dan Bawaslu Diingatkan soal Hantu Politik Uang di Pilkada

KPU dan Bawaslu Diingatkan soal Hantu Politik Uang di Pilkada
Ilustrasi Pilkada 2020. (Foto: Antara)
Carlos KY Paath / YS Rabu, 20 Mei 2020 | 08:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi II DPR Endro Suswantoro Yahman mengingatkan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk melibatkan seluas mungkin elemen-elemen masyarakat.

Tujuannya dalam rangka pengawasan pelaksanaan tahapan-tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak dan pendidikan politik rakyat.

Menurut Endro, hal ini perlu dilakukan dan lebih mendapat perhatian agar rakyat makin terbuka kesadaran atas pilihan politiknya, sehingga mampu meminimalisir praktik politik uang apabila pilkada dilaksanakan pada 9 Desember 2020.

Penegasan tersebut disampaikan Endro, melihat masa pelaksanaan Pilkada Serentak bersamaan dengan proses pemulihan ekonomi rakyat. Dikhawatirkan Pilkada Serentak malah menjadi ajang transaksi kekuasaan belaka.

Selain itu juga menghasilkan kualitas kepemimpinan daerah yang buruk, menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan berkasus hukum di kemudian hari.

"Berhati-hati dengan situasi pandemi yang belum jelas. Bila seandainya pandemi sudah selesai, dalam situasi pasca pandemi Covid-19, yang saya khawatirkan adalah kualitas demokrasi. Karena dilaksanakan pada masa dimana rakyat masih rentan secara ekonomi, masih dalam fase pemulihan ekonomi, maka dikhawatirkan pemenangnya sudah bisa ditebak, yaitu kontestan yang memiliki capital terbesar," kata Endro dalam keterangannya, Selasa (19/5/2020).

Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Lampung I ini pun menyebut, "Kita khawatir, penyelenggaraan pilkada yang melibatkan anggaran negara begitu banyak, sekitar 20 triliun rupiah, malah tidak menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berpihak pada rakyat, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, pemimpin-pemimpin yang berkasus hukum karena tipikor dikemudian hari, yang pada akhirnya berdampak pada tidak pernah terwujudnya masyarakat daerah yang sejahtera."

Endro menegaskan, politik itu suci. "Politik itu adalah ibadah, menghadap Tuhan. Tuhan bermukim pada gubug-gubugnya kaum miskin. Dan pemilu, Pilkada serentak itu adalah sarana kita beribadah. Jadi jangan sampai kualitas pemilu kita dibajak oleh orang-orang berduit, baik itu pesertanya atau pun penyelenggaranya. Sebab, hantunya ini adalah duit," tegas Endro.

Endro mengimbau KPU dan para penyelenggara pemilu lainnya untuk tidak melihat pelaksanaan tahapan-tahapan pilkada serentak sebagai kegiatan yang biasa-biasa saja.

"KPU perlu melihat ini dari kacamata yang lebih penting, dari cara pandang yang lebih kritis, yaitu sebagai salah satu usaha penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka, yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat," ungkap Endro.

"Ini tugas kita bersama untuk terlibat lebih aktif dan fokus dalam pendidikan politik rakyat. Baik itu perwakilan parpol, penyelenggara pemilu maupun elemen-elemen masyarakat lainnya. Sebab, bila tidak, kita bisa meyakini sudah bisa menebak hasil pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada Desember nanti," ucap Endro.



Sumber: Suara Pembaruan