Karantina WNI Repatriasi di Wisma Atlet Belum 100% Siap

Karantina WNI  Repatriasi di Wisma Atlet Belum 100% Siap
Perawatan pasien Covid-19 di Wisma Atlet, Jakarta. (Foto: Istimewa)
Dwi Argo Santosa / DAS Rabu, 20 Mei 2020 | 10:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pihak Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet menyatakan bahwa ruang dan layanan bagi warga yang mendapat karantina repatriasi tidak menggambarkan keseluruhan pelayanan di rumah sakit tersebut. Tower 9 atau Blok C2 adalah wisma karantina untuk warga negara Indonesia (WNI) repatriasi, yang belum siap 100 persen. Hal ini guna memberikan klarifikasi terkait adanya keluhan warga mengenai kondisi penanganan di Wisma Atlet, yang kemudian tersebar di media sosial maupun media massa. 

Wakil Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) RS Darurat Wisma Atlet, Brigjen TNI M Saleh menyatakan, sesuai kebijakan dan aturan yang telah dikeluarkan pemerintah dalam penanganan Covid-19, seluruh warga negara Indonesia yang baru tiba dari luar negeri harus menjalani masa karantina. Salah satu tempat yang ditunjuk untuk karantina tersebut adalah di Wisma Atlet. 

Sejumlah keluhan muncul mengenai layanan pada bagian karantina repatriasi ini, antara lain tulisan yang disampaikan oleh Kunaifi, seorang kandidat doktor yang terpaksa pulang ke Indonesia di tengah pandemi bersama istri dan dua anak karena visa dan beasiswanya yang hampir habis di Universitas Twente, Belanda.

Seperti dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (20/5/2020), Kunaifi menyampaikan kondisi saat masuk ke Gedung C2 Wisma Atlet Kemayoran pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2020. Social distancing tidak terlaksana sama sekali di sana dengan adanya antrean untuk mengambil makan karena porsi makan sedikit, antrean di lift, dan kurangnya kejelasan mengenai penerapan aturan atau protokol kesehatan.

Menurut M Saleh, Kunaifi beserta keluarganya masuk dalam rombongan gelombang pertama ke Tower 9 Wisma Atlet Pademangan, yang kondisinya baru awal dibuka.

“Kami perlu jelaskan bahwa Tower 9 atau Blok C2 ini adalah wisma karantina untuk repatriasi, jadi bukan termasuk RS Darurat Wisma Atlet,” katanya.

Saat kondisi awal Tower 9 Wisma Atlet baru dibuka, kata M Saleh, kesiapannya memang belum maksimal. Gedung dan fasilitasnya belum siap 100%. Petugas dari TNI, dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) maupun dari instansi terkait pun masih sangat terbatas.

Tower 9 baru disiapkan dua hari sebelumnya, yaitu tanggal 14 Mei 2020 atas hasil keputusan Presiden pada Ratas Repatriasi WNI. “Namun pada saat itu jumlah WNI repatriasi yang masuk jumlahnya sangat banyak, bahkan pada satu hari itu saja yang masuk mencapai lebih dari 1.000 orang,” tambahnya.

Tower 9 Wisma Atlet ini memang menjadi salah satu tempat yang disiapkan pemerintah untuk menampung para WNI repatriasi yang baru kembali dari luar negeri, baik dari anak buah kapal (ABK), pekerja migran Indonesia (PMI), maupun mahasiswa. Belum sampai seminggu dioperasikan, saat ini setidaknya terdapat sebanyak 2.158 warga yang sudah masuk dan sedang menjalani karantina di Tower 9 Wisma Atlet.

Namun seiring dengan berjalannya waktu sambil menangani warga yang sedang menjalani karantina, upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi terus dilakukan. Untuk kondisi sekarang banyak fasilitas yang secara bertahap sudah dipenuhi sehingga menunjang perbaikan sistem dan manajemen.

“Kondisi sekarang sudah jauh berbeda. Sejak diterima saat pendaftaran, saat pemeriksaan, menjalani masa karantina sampai sembuh dan dinyatakan bisa meninggalkan Wisma Atlet, sudah dapat berjalan dengan baik”, ungkap  M Saleh.

Atas keluhan warga tersebut  pihak Kogasgabpad tetap menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih.“Alhamdulillah, untuk kondisi sekarang sudah banyak perbaikan. Namun tetap kami berterima kasih atas masukan seperti ini yang yang sangat bermanfaat bagi kami untuk bisa terus menyempurnakan apa yang telah sama-sama kita lakukan,” katanya.

M Saleh juga meminta kerja sama dari para WNI repatriasi yang baru masuk ke dalam Tower 9 Wisma Atlet agar dengan penuh kesadaran mematuhi aturan protokol kesehatan walaupun tanpa diperintah. "Saya menghimbau walaupun tanpa ada tulisan atau pengawasan petugas, siapa pun sadar untuk menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menjaga kebersihan,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com