Sinergi Tiga Pilar Tentukan Keberhasilan Virtual Schooling

Sinergi Tiga Pilar Tentukan Keberhasilan Virtual Schooling
Gisella Anastasia bersama sang buah hati Gempi, saat mengikuti proses belajar mengajar secara virtual di rumah (virtual schooling). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 20 Mei 2020 | 23:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 memunculkan kesadaran baru bagi para orang tua akan beragam tantangan dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di rumah melalui format daring atau virtual schooling, yang telah berlangsung sejak dua bulan terakhir.

Baca Juga: Belajar di Tengah Pandemi Harus Masuk Cetak Biru Pendidikan

Terlebih, tema "Belajar dari Covid-19" yang diangkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) juga menjadi momen pembelajaran bersama bahwa keberhasilan seorang anak dalam belajar bukan hanya menjadi tugas guru di sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi orang tua dan anak.

Psikolog Jovita Maria Ferliana, mengatakan, sejatinya ada banyak gaya belajar anak, mulai dari gaya belajar auditori, visual, hingga kinestetik.

"Anak yang punya gaya belajar kinestetik akan lebih menyukai aktivitas pembelajaran yang aktif, bergerak, lewat sebuah permainan, berbeda dengan gaya belajar anak auditori yang lebih menyukai ketenangan," kata Jovita dalam kegiatan virtual media gathering di Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Menurut Jovita, dengan memahami gaya belajar spesifik dari sang anak, akan memudahkan orang tua untuk mendukung mereka menerima dan menangkap pelajaran.

Baca Juga: Kampus Swasta Mulai Tahun Ajaran Baru dengan Fleksibel

"Apalagi di masa virtual schooling, dimana orang tua menjadi pendamping dan jembatan antara guru dan murid selama masa pengajaran,” paparnya.

Lebih lanjut, Jovita menjelaskan cara orang tua untuk dengan mudah menemukan gaya belajar anak. Salah satunya, dengan sering menghabiskan waktu bersama secara tidak langsung dapat memahami gaya belajar sang anak.

“Selain itu, perlunya menanyakan kesulitan yang dihadapi dan juga melakukan komunikasi antar orang tua dan guru, selaku tenaga pendidik yang sehari-hari mengajarkan anak secara langsung,” tandas Jovita.

School Director of Sampoerna Academy, Dr Mustafa Guvercin, mengatakan, pihaknya percaya setiap anak adalah unik dan membutuhkan pendekatan yang berbeda satu dengan lainnya.

Baca Juga: Resmi Dibuka, SBMPN Tahun Ini Tidak Terapkan Tes Tulis

"Kami selalu berkomitmen agar masing-masing anak mendapatkan pengajaran yang optimal. Untuk itu, kami ingin mengajak lebih banyak orang tua untuk dapat memahami pentingnya sinergi ini agar mereka dapat berpartisipasi aktif, terutama dalam masa virtual schooling," kata Mustafa.

Sementara itu, Gisella Anastasia, seorang public figure sekaligus orang tua murid Sampoerna Academy menyambut positif inisiatif kolaborasi tersebut.

"Masa virtual schooling ini memang benar-benar menyadarkan saya untuk lebih mengenal gaya belajar Gempi. Selama ini perkembangan Gempi di sekolah sudah sangat baik yang tentunya tidak lepas dari peranan para guru yang menerapkan metode STEAM dan project based learning," kata Gisella.

Menurut Gisella, dengan mengetahui gaya belajar Gempi yang lebih menyukai kegiatan belajar yang berhubungan dengan seni dan sensorial, dirinya dapat mendukung kegiatan belajar mengajar yang saat ini dilakukan melalui virtual schooling.

"Kegiatan belajar jadi lebih menyenangkan bagi anak dan tetap efektif dengan adanya peranan aktif saya sebagai orang tua untuk bisa berkolaborasi dengan para guru,” pungkas Gisella.



Sumber: BeritaSatu.com