Kasus Positif Covid-19 Meningkat Tajam karena Pemeriksaan dan Penularan Tinggi

Kasus Positif Covid-19 Meningkat Tajam karena Pemeriksaan dan Penularan Tinggi
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. ( Foto: Covid19.co.id )
Dina Manafe / JAS Sabtu, 23 Mei 2020 | 22:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, kasus positif Covid-19 meningkat baik secara nasional maupun khusus di Jawa Timur karena faktor yang sama. Pertama karena jumlah pemeriksaan spesimen meningkat. Kedua karena karena transmisi virus di tengah masyarakat masih tinggi.   

Penambahan kasus positif baru Covid-19 kembali mencengangkan. Hari ini, Sabtu (23/5) Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto melaporkan penambahan kasus mencapai 949 kasus, sehingga totalnya menjadi 21.745 kasus.

Ini kali kedua kasus baru meningkat tajam setelah pada Kamis (21/5/2020) lalu mencatat rekor tertinggi, yaitu 973 kasus. Jawa Timur lagi-lagi mencatat peningkatan drastis, yaitu 466 kasus melampaui DKI Jakarta yang selama ini kasusnya tertinggi dari seluruh provinsi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, kasus positif meningkat baik secara nasional maupun khusus di Jawa Timur karena faktor yang sama. Pertama, karena jumlah pemeriksaan spesimen dengan metode polymerase chain reaction (PCR) maupun tes cepat melokuler (TCM) bertambah banyak di semua wilayah. Sehingga jumlah kasus positif yang ditemukan juga semakin banyak.

Hari ini dilaporkan jumlah kasus yang diuji spesimennya mencapai 176.035 orang, dan hasilnya sebanyak 21.745 positif dan 154.290 negatif. Pemeriksaan ini dengan PCR di 69 laboratorium, tes cepat melokuler (TCM) di 39 laboratorium dan laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 149 lab.

Selain pengujian spesimen meningkat, menurut Achmad Yurianto, jumlah kasus positif semakin banyak karena transmisi virus di tengah masyarakat masih tinggi. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah semakin kendur dalam sepekan terakhir. Di DKI Jakarta misalnya, sejumlah pusat perbelanjaan masih dbuka bahkan menawarkan diskon besar-besaran sehingga menarik kerumunan orang. Pemerintah daerah (Pemda) terkesan membiarkannya.

“Sudah kita ingatkan pemda, bahkan Presiden sendiri mengatakan berkali kali supaya kepala daerah fokus pada PSBB. Tapi kan faktanya tidak semuanya seperti itu,” kata Yurianto kepada Beritasatu.com, Sabtu (23/5)

Yurianto mengatakan, Covid-19 ini adalah masalah dunia bukan hanya Indonesia. Karena itu penanganannya pun tidak hanya pemerintah, melainkan semua komponen bangsa. Percuma pemerintah buat regulasi untuk memutus rantai penularan dan menurunkan kasus, bila kesadaran masyarakat untuk mematuhinya rendah.

Faktanya beberapa hari ini tampak kerumunan orang di mana-mana. Di kerumunan tersebut dipastikan terjadi penularan Covid-19. Menurut Yurianto, beberapa hari ke depan akan terjadi ledakan kasus Covid-19.

Ini terjadi karena banyak orang tidak patuhi PSBB dan protokol kesehatan. Setelah Lebaran diperkirakan terjadi ledakan kasus terutama di DKI Jakarta. Mereka yang mudik atau pulang kampung akan pulang kembali ke DKI Jakarta dengan membawa Covid-19. 



Sumber: BeritaSatu.com